Keajaiban di Nepal: Pekerja China Selamat Setelah 10 Hari Terperangkap di Terowongan PLTA
Baca dalam 60 detik
- Seorang warga China berhasil dievakuasi dari terowongan proyek PLTA Trishuli setelah terperangkap selama sepuluh hari, menambah daftar penyintas menjadi tiga orang.
- Operasi penyelamatan melibatkan personel militer Nepal dan ahli bencana Korea Selatan, menyoroti tantangan medan ekstrem dan koordinasi internasional.
- Bencana yang dipicu gletser runtuh ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keselamatan pekerja di proyek infrastruktur berisiko tinggi, termasuk di kawasan Asia.

Kathmandu, Nepal โ Seorang pekerja asal China berhasil ditarik hidup-hidup dari terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Trishuli pada Sabtu, 10 hari setelah bencana banjir dahsyat melanda kawasan itu. Kabar ini diumumkan melalui unggahan media sosial kantor perdana menteri Nepal, sekaligus menjadi secercah harapan di tengah duka yang masih menyelimuti negara Himalaya tersebut.
Penyelamatan ini melengkapi total tiga pekerja yang selamat dari proyek Trishuli. Sebelumnya, dua pekerja asal Nepal dievakuasi dari terowongan pembangkit Trishuli 3A pada Jumat. Tim gabungan yang terdiri atas personel militer Nepal dan ahli penanggulangan bencana asal Korea Selatan berhasil mengeluarkan pria tersebut dari terowongan sepanjang 225 meter. Ia kini menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, dan rekaman video menunjukkan ia diterbangkan dengan helikopter sambil diawasi ketat oleh tim medis militer.
Bencana yang terjadi pada 26 Agustus itu diperkirakan dipicu oleh runtuhnya gletser, memicu banjir bandang yang menewaskan sedikitnya 1.300 orang dan menyebabkan lebih dari 5.000 lainnya hilang. Otoritas penanggulangan bencana Nepal mencatat sekitar 900 pekerja masih belum ditemukan dari 12 proyek PLTA yang tersebar di berbagai wilayah, dengan sekitar 500 di antaranya diduga terjebak di dalam terowongan. Angka ini menggarisbawahi besarnya skala tragedi yang melanda sektor infrastruktur energi negeri tersebut.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat pahit akan risiko besar yang mengintai proyek-proyek infrastruktur di kawasan rawan bencana. Sebagai negara yang juga berada di Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak daerah pegunungan, Indonesia tengah gencar membangun PLTA, terutama di wilayah seperti Sumatra Utara dan Sulawesi. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, saat dihubungi terpisah, menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini dan protokol keselamatan bagi pekerja di proyek semacam itu. "Kejadian di Nepal harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keselamatan proyek di daerah rawan longsor dan banjir bandang mutlak diperlukan," ujarnya.
Keberhasilan penyelamatan di Trishuli tidak lepas dari koordinasi internasional yang cepat. Keterlibatan tim Korea Selatan menunjukkan bahwa penanganan bencana skala besar menuntut kolaborasi lintas negara, berbagi teknologi, dan keahlian khusus. Namun, di balik heroisme para penyelamat, muncul pertanyaan mendasar: mengapa masih banyak pekerja yang belum dievakuasi setelah sepuluh hari? Apakah standar keselamatan proyek PLTA di Nepal, dan mungkin juga di negara berkembang lainnya, sudah memadai untuk menghadapi skenario ekstrem seperti runtuhnya gletser akibat perubahan iklim?
Bencana ini juga menyoroti kerentanan infrastruktur energi terhadap dampak perubahan iklim. Gletser di Himalaya mencair dengan cepat, meningkatkan risiko terbentuknya danau glasial yang bisa jebol sewaktu-waktu. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kejadian serupa akan semakin sering terjadi. Bagi negara-negara yang bergantung pada energi hidroelektrik, seperti Nepal dan Indonesia yang tengah mengembangkan PLTA besar, diperlukan investasi tidak hanya pada teknologi turbin, tetapi juga pada sistem mitigasi bencana yang canggih dan pelatihan tanggap darurat bagi pekerja.
Operasi pencarian dan penyelamatan di Nepal masih terus berlangsung. Tim penyelamat menghadapi medan yang sulit, dengan banyak terowongan yang terendam lumpur dan puing. Setiap jam yang berlalu mengurangi peluang menemukan korban selamat, namun kisah tiga pekerja yang berhasil ditarik hidup-hidup memberikan harapan tipis di tengah keputusasaan. Pertanyaan besarnya kini: akankah ada lagi keajaiban serupa, dan pelajaran apa yang akan diambil oleh industri PLTA global dari tragedi ini?



