Ketegangan di Timur Tengah Kembali Memanas, Harga Minyak Mentah Tembus US$100
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent kembali bertahan di atas US$100 per barel setelah reli mingguan dua digit dipicu gangguan pasokan dari Laut Merah dan Kazakhstan.
- Serangan Houthi terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah serta penghentian operasi terminal ekspor Kazakhstan akibat serangan drone Ukraina memperkuat premi risiko geopolitik.
- Kenaikan harga minyak berpotensi membebani anggaran subsidi energi Indonesia dan memperkuat tekanan inflasi jika berlangsung berkepanjangan.

Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan ketahanan di level psikologis US$100 per barel pada perdagangan Jumat (24/7/2026) pagi, meski sempat terkoreksi tipis setelah reli tajam sehari sebelumnya. Kombinasi ancaman terhadap dua jalur distribusi energi paling vital di duniaโLaut Merah dan Selat Hormuzโserta gangguan pasokan dari Kazakhstan membuat pasar kembali dibayangi ketidakpastian pasokan global.
Data Refinitiv mencatat harga Brent berada di US$100,25 per barel pada pukul 09.15 WIB, turun 0,44 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,52 persen ke US$91,71 per barel. Meski terkoreksi, secara mingguan Brent masih mencatat kenaikan sekitar 13,5 persen dan WTI menguat 10,9 persen, menandai reli dua digit yang jarang terjadi.
Reli ini dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan di Bab el-Mandeb, jalur masuk Laut Merah yang merupakan koridor pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker Saudi di Laut Merah. Eskalasi ini memicu kekhawatiran bahwa jalur tersebut bisa lumpuh, mengingat Houthi sebelumnya telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Presiden AS Donald Trump pun mengeluarkan peringatan keras bahwa Iran akan dimintai pertanggungjawaban jika serangan serupa terulang.
Di sisi lain, pasokan dari Kazakhstan ikut tertekan setelah Kementerian Energi setempat mengumumkan pemangkasan produksi sementara. Keputusan ini dipicu oleh dugaan serangan drone Ukraina yang memaksa terminal ekspor utama di Laut Hitam menghentikan operasi. Terminal tersebut merupakan bagian dari Caspian Pipeline Consortium (CPC), yang menangani sekitar 2 persen pasokan minyak mentah harian dunia. Menurut sumber industri yang dikutip Reuters, salah satu ladang minyak terbesar Kazakhstan bahkan telah memangkas produksi lebih dari separuh kapasitasnya.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini membawa implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, setiap kenaikan US$10 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi hingga puluhan triliun rupiah. Pemerintah tengah berupaya menahan harga BBM domestik di tengah tekanan fiskal yang semakin berat. Jika harga bertahan di atas US$100 dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin penyesuaian harga di dalam negeri harus dilakukan, yang pada gilirannya dapat mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Ketidakpastian di jalur distribusi utama diperkirakan masih akan membayangi pasar dalam waktu dekat. Selama Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz belum stabil, ditambah gangguan produksi di Kazakhstan, premi risiko geopolitik akan terus tertanam dalam harga minyak. Pelaku pasar kini bersiap menghadapi volatilitas tinggi dengan kecenderungan harga bertahan di level tinggi. Pertanyaannya, berapa lama lagi Indonesia mampu menahan gejolak energi global tanpa harus mengorbankan stabilitas ekonominya?



