David Warner Akui Mengemudi dalam Pengaruh Alkohol, Terancam Hukuman Penjara
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang kriket Australia David Warner mengaku bersalah atas tuduhan mengemudi dalam keadaan mabuk setelah terjaring razia di Sydney.
- Pengacara Warner menyebut kliennya membuat keputusan bodoh dengan tidak memesan taksi, meski hanya minum tiga gelas anggur.
- Vonis dijadwalkan 18 Agustus dengan ancaman denda hingga A$2.200 atau hukuman penjara maksimal sembilan bulan.

David Warner, mantan pemukul tim nasional kriket Australia, secara resmi mengaku bersalah atas tuduhan mengemudi dalam pengaruh alkohol. Pengakuan itu disampaikan dalam sidang di pengadilan Sydney setelah ia ditangkap dalam razia acak pada April lalu.
Pengacara Warner, Bobby Hill, mengungkapkan bahwa kliennya menyadari tindakannya sangat ceroboh dan tidak bertanggung jawab. โDia tahu itu keputusan yang bodoh, memilih mobil daripada memesan Uber,โ ujar Hill dalam sidang sebelumnya pada Mei. Warner diketahui baru saja menghabiskan tiga gelas anggur di rumah seorang teman pada Minggu Paskah sebelum memutuskan untuk mengemudi pulang.
Kendati demikian, Hill menambahkan bahwa minum anggur di hari raya bukanlah kejahatan. โYang menjadi masalah adalah pilihan rencana A yang bodoh, bukan rencana B,โ katanya, merujuk pada opsi taksi atau transportasi umum.
Hakim menjadwalkan vonis pada 18 Agustus. Warner menghadapi hukuman minimal larangan mengemudi selama enam bulan, denda hingga A$2.200 (sekitar Rp23 juta), atau bahkan hukuman penjara maksimal sembilan bulan. Kasus ini menjadi noda di akhir karier Warner yang pensiun dari kriket internasional pada 2024.
Warner saat ini masih aktif sebagai kapten Karachi Kings di Liga Super Pakistan dan juga memimpin Sydney Thunder di kompetisi domestik Australia. Kepala Eksekutif Cricket NSW, Lee Germon, menyatakan keprihatinan atas tuduhan tersebut. โKami sangat serius menangani masalah ini. Cricket NSW adalah pendukung kuat keselamatan berkendara dan anti-minum-minuman keras saat mengemudi,โ tegasnya.
Kasus Warner mengingatkan kembali pada sejumlah insiden atlet top dunia yang terjerat kasus serupa. Di Indonesia, beberapa pesepakbola dan artis juga pernah tersandung kasus mengemudi dalam pengaruh alkohol, meski sanksi yang dijatuhkan kerap ringan. Perbandingan ini menunjukkan perbedaan budaya hukum dan penegakan aturan lalu lintas antara Australia dan Indonesia.
Meski Warner telah mengaku bersalah, publik masih menunggu apakah hukuman yang dijatuhkan akan setimpal dengan pelanggarannya. Sebagai mantan bintang internasional, ia memiliki pengaruh besar terhadap penggemar muda. Pertanyaan yang muncul: akankah kasus ini menjadi pelajaran bagi atlet lain untuk lebih berhati-hati, atau justru hanya menjadi berita sesaat?



