Banjir Rekrutan Baru, Mason Mount Kian Tepi di Manchester United
Baca dalam 60 detik
- Manchester United menggelontorkan dana lebih dari 150 juta pound untuk mendatangkan Carlos Baleba, Youri Tielemans, dan Andrey Santos pada bursa musim panas ini.
- Kedatangan tiga gelandang baru itu membuat persaingan di lini tengah MU semakin ketat, dan Mason Mount diprediksi menjadi pemain yang paling terpinggirkan.
- Mount, yang dibeli seharga 60 juta pound dari Chelsea, tercatat lebih sering absen karena cedera ketimbang tampil di Premier League bersama Setan Merah.

Lini tengah Manchester United musim ini berubah drastis. Setelah kepergian Casemiro, manajemen yang digawangi INEOS bergerak cepat dengan mengucurkan dana segar lebih dari 150 juta pound untuk memboyong tiga gelandang anyar: Carlos Baleba, Youri Tielemans, dan Andrey Santos. Konsekuensinya, persaingan memperebutkan tempat inti menjadi semakin sengit, dan salah satu pemain yang paling terancam tersingkir adalah Mason Mount, gelandang asal Inggris yang dibeli dengan harga mahal dua tahun lalu.
Mount, yang direkrut dari Chelsea dengan nilai transfer mencapai 60 juta pound pada 2023, nyaris kehilangan tempat di skuad utama. Sejak bergabung, ia lebih sering menghabiskan waktu di ruang perawatan ketimbang di lapangan hijau. Catatan menunjukkan, dari total tiga musim berseragam MU, pemain berusia 27 tahun itu telah absen dalam 62 pertandingan Premier Leagueโjumlah yang justru lebih banyak dibanding penampilannya yang hanya 54 laga. Angka tersebut menjadi indikator betapa rentannya kondisi fisiknya.
Musim panas ini, pelatih Michael Carrick sebenarnya sempat memberikan kepercayaan kepada Mount untuk tampil pada laga pramusim melawan Paris Saint-Germain dan Atletico Madrid. Namun, cedera kembali menghadangnya. Ia hanya bermain sekitar 20 menit sebelum ditarik keluar karena masalah fisik. Hingga dua pekan awal Premier League 2026/27 bergulir, nama Mount belum pernah masuk dalam daftar susunan pemain. Kondisi ini kian mempertegas bahwa masa depannya di Old Trafford berada di ujung tanduk.
Kedatangan Baleba, Tielemans, dan Santos membuat kedalaman skuad MU di lini tengah menjadi salah satu yang terbaik di Inggris. Ketiganya memiliki total lebih dari 360 penampilan di kasta tertinggi, memberikan opsi taktis yang luas bagi Carrick. Namun, kehadiran mereka juga memicu efek domino bagi pemain lain. Manuel Ugarte, yang tengah cedera, diperkirakan akan kesulitan merebut posisi starter saat pulih. Dua pemain muda akademi, Jack dan Tyler Fletcher, juga harus bersabar menunggu kesempatan.
Di atas kertas, Kobbie Mainoo tetap menjadi pilihan utama di lini tengah, terutama setelah penampilannya yang impresif melawan Ipswich Town. Sementara itu, Tielemans yang berpengalaman diproyeksikan menjadi partner ideal bagi Mainoo, dengan Bruno Fernandes mengisi peran sebagai gelandang serang. Kombinasi ini dinilai mampu memberikan keseimbangan antara kreativitas dan ketangguhan bertahan.
Dengan skenario tersebut, Mount semakin terpinggirkan. Roy Keane, legenda MU, pernah menyebutnya "seperti Paul Scholes" saat masih di Chelsea. Namun, kenyataan di Manchester jauh dari harapan. Cedera berkepanjangan telah menghancurkan kariernya di Old Trafford. Bahkan ketika fit, kontribusinya di lini serang minim. Statistik musim lalu menunjukkan ia hanya menciptakan rata-rata 0,1 peluang besar per laga, berada di 20% terbawah di antara gelandang Premier League. Ia juga kalah dalam hal dribel sukses dibanding 78% gelandang lainnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk disimak. Manchester United memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air, dan nasib pemain seperti Mount kerap menjadi perbincangan hangat. Jika Mount benar-benar hengkang, MU harus siap menerima kerugian finansial yang signifikan. Dengan nilai pasar yang terus menurun, klub kemungkinan besar akan menjualnya di bawah harga beli. Pertanyaannya, akankah ada klub yang berani mengambil risiko dengan kondisi fisiknya yang rapuh? Atau justru MU akan mempertahankannya sebagai pemain pelapis?
Keputusan terkait masa depan Mount akan menjadi salah satu ujian bagi manajemen INEOS dalam mengelola aset pemain. Apakah mereka akan bersabar menunggu pemulihannya, atau memilih untuk memutus tali dengan cepat demi menghindari kerugian yang lebih besar? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, jalan Mount di Manchester United semakin sempit.



