Super Garuda Shield 2026: 320 Pasukan Lintas Udara Mendarat di Baturaja, Sinyal Penguatan Poros Pertahanan Indo-Pasifik
Baca dalam 60 detik
- Latihan militer gabungan terbesar di kawasan itu mempertemukan 320 personel penerjun dari lima negara di Baturaja, Sumatera Selatan.
- Kehadiran pesawat angkut C-130 dan KC-130 dari dua negara menunjukkan uji interoperabilitas logistik udara yang kian dalam.
- Partisipasi 21 negara menegaskan posisi Indonesia sebagai poros diplomasi pertahanan di tengah rivalitas kekuatan besar Indo-Pasifik.

Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield (SGS) 2026 di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, menjadi panggung pendaratan ratusan penerjun payung dari lima negara, sebuah demonstrasi kekuatan udara yang mencerminkan menguatnya poros pertahanan Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.
Sebanyak 320 personel militer melompat dari ketinggian 1.200 kaki secara statis ke area pendaratan Baturaja. Mereka berasal dari Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Prancis. Manuver ini bukan sekadar atraksi; ia dirancang untuk menguji kemampuan infiltrasi pasukan dari udara langsung ke wilayah sasaran, sekaligus menyelaraskan prosedur operasi lintas negara.
Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI, Letnan Jenderal Mohamad Naudi Nurdika, menegaskan bahwa setiap tahapan penerjunan diawasi ketat untuk memastikan keamanan dan presisi sesuai standar operasional. Ia menyebut latihan ini sebagai wujud nyata diplomasi pertahanan Indonesia untuk menjaga stabilitas kawasan.
Skala latihan tahun ini jauh lebih luas dari edisi sebelumnya. Tema yang diusung mencakup operasi gabungan multinasional di Jakarta, Bandung, Lampung, Baturaja, dan Kalimantan Utara. Artinya, latihan tidak lagi terpusat di satu titik, melainkan tersebar di sejumlah wilayah strategis Indonesia, dari ujung barat hingga timur.
Dukungan udara untuk penerjunan ini melibatkan enam armada pesawat, terdiri dari dua unit Hercules C-130 milik TNI serta tiga unit C-130 dan satu unit tanker/kargo KC-130 milik Angkatan Udara Amerika Serikat. Kombinasi ini menunjukkan uji kemampuan logistik dan angkut udara yang menjadi tulang punggung operasi gabungan.
Partisipasi 21 negara dalam SGS 2026 menegaskan posisi Indonesia sebagai poros pertahanan yang diperhitungkan. Selain lima negara yang menerjunkan pasukan, negara lain seperti Australia, Kanada, dan sejumlah negara Eropa turut ambil bagian. Ini bukan sekadar latihan militer, melainkan ajang membangun kepercayaan dan interoperabilitas antarangkatan bersenjata di kawasan.
Bagi Indonesia, latihan ini memiliki nilai strategis ganda. Di satu sisi, TNI mengasah kemampuan tempur dan kesiapsiagaan menghadapi potensi krisis. Di sisi lain, kehadiran negara-negara besar seperti AS dan Jepang di wilayah Sumatera Selatan mengirim sinyal bahwa Indonesia mampu menjadi penyeimbang di tengah rivalitas kekuatan global.
Menurut pengamat militer, pemilihan Baturaja sebagai lokasi latihan bukan kebetulan. Wilayah ini memiliki medan yang menantang dan dekat dengan Selat Sunda, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Latihan semacam ini juga menguji kemampuan TNI dalam mengamankan wilayah yang berdekatan dengan jalur perdagangan vital.
"Latihan ini sekaligus menjadi wujud nyata diplomasi pertahanan Indonesia untuk menjaga stabilitas, keamanan, dan kedamaian di seluruh kawasan Indo-Pasifik," ujar Letjen TNI Mohamad Naudi Nurdika.
Ke depan, keberhasilan SGS 2026 akan menjadi tolok ukur sejauh mana Indonesia mampu memainkan peran sebagai jembatan antara kekuatan-kekuatan besar. Pertanyaannya, apakah latihan semacam ini akan mampu meredam ketegangan di Laut China Selatan atau justru memicu kekhawatiran negara-negara lain? Yang jelas, Indonesia tengah memperkuat posisinya sebagai aktor kunci dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik.



