Pertarungan Dua Generasi: Ramsay-Peaty vs Nowacki di Final Dada Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Adam Ramsay-Peaty, perenang dada legendaris, akan menghadapi anak didiknya sendiri, Filip Nowacki, di final 100m dada Commonwealth Games Glasgow.
- Nowacki, yang dibina di bawah program AP Race milik Ramsay-Peaty, berpeluang mengakhiri paceklik medali Jersey selama 36 tahun.
- Pertarungan ini menjadi ujian ketahanan mental Ramsay-Peaty pasca masalah psikologis sekaligus simbol estafet generasi renang Inggris.

Final 100 meter gaya dada putra Commonwealth Games Glasgow, Sabtu malam, bukan sekadar perebutan medali. Ini adalah pentas peralihan tongkat estafet—dari seorang legenda yang pernah jatuh bangun melawan setan pribadinya, kepada pemuda yang tumbuh besar dengan menonton videonya.
Adam Ramsay-Peaty (31), pemegang rekor dunia dan dua kali juara Olimpiade, tengah mengejar tiket menuju Los Angeles 2028. Namun di jalurnya kini muncul Filip Nowacki (18), perenang muda asal Jersey yang juga merupakan anak didiknya di klub AP Race. Hubungan mereka bak guru dan murid yang bersiap saling sikut di lintasan.
Nowacki bukan lawan sembarangan. Tahun lalu ia memecahkan rekor junior Inggris milik Ramsay-Peaty di nomor yang sama. Dalam semifinal Jumat, Ramsay-Peaty memang unggul—ia memimpin dari start dan menahan laju Nowacki di 50 meter kedua—tetapi jarak keduanya tipis. “Saya melihat gelombang depannya, tapi itulah yang saya latih,” kata Ramsay-Peaty. “Saya sprinter, saya bisa start cepat.”
Bagi Nowacki, ini adalah momen yang sudah diimpikannya sejak kecil. “Adam adalah panutan sejati. Saya tumbuh dengan menonton dia di Rio, Tokyo, Paris. Bisa berenang bersaing dengannya, bukan sekadar menjadi pesaing biasa, itu spesial,” ujarnya. Nowacki, yang berenang di bawah bimbingan Nathan Jegou di Jersey, lebih kuat di nomor 200 meter—jarak yang tidak ditempuh Ramsay-Peaty. Namun di nomor 100 meter, justru stamina muda Nowacki yang diunggulkan untuk finis lebih kuat.
Kedua perenang ini akan menjadi rekan setim di Tim Inggris Raya untuk Olimpiade LA, tetapi untuk malam ini mereka adalah rival. Ramsay-Peaty mengakui bahwa ia belum berdiri di puncak podium sejak Commonwealth Games Birmingham 2022. Di Paris, ia hanya meraih perak setelah melewati masa “spiral perusak diri” akibat masalah kesehatan mental yang sempat membuatnya mempertimbangkan pensiun. “Ini akan menjadi pertarungan sengit, terutama di 25 meter terakhir. Dan saya suka pertarungan sengit,” katanya.
Pertarungan ini menyiratkan pesan lebih dalam bagi dunia renang, tak terkecuali Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia belum memiliki perenang dada yang mampu bersaing di level tertinggi. Kisah Ramsay-Peaty yang bangkit dari krisis mental dan memilih membina generasi penerus langsung di klubnya sendiri merupakan model yang layak ditiru. Bayangkan jika atlet senior Indonesia seperti Aflah Fadlan Prawira atau perenang muda lainnya bisa mendapatkan pendampingan serupa—sebuah program yang tidak hanya mencetak juara, tetapi juga menjaga kesinambungan prestasi. Sayangnya, ekosistem renang Indonesia masih minim ruang bagi hubungan mentor-murid seperti AP Race.
Di sisi lain, Nowacki berpeluang mengukir sejarah untuk Jersey—wilayah yang hanya pernah sekali merasakan emas di Commonwealth Games. Jika ia finis di podium, itu akan menjadi medali pertama Jersey dalam 36 tahun. Namun jalan masih panjang: Sam Williamson dari Australia, yang tampil dominan di semifinal, juga mengincar emas. “Saya akan memberikan yang terbaik,” ujar Nowacki sambil tertawa ketika ditanya soal peluang menang.
Pertanyaan redaksional yang tersisa: apakah Ramsay-Peaty mampu membuktikan bahwa dirinya masih sang juara sejati, atau justru Nowacki yang akan menjadi simbol estafet baru? Malam nanti akan menjawab, sekaligus menjadi cermin bagi perenang muda di seluruh dunia—termasuk Indonesia—bahwa peralihan generasi bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru.



