Klarifikasi Prince Estate Soal Album Timeless: Bukan AI, Melainkan Overdub Musisi Asli
Baca dalam 60 detik
- Pihak pengelola warisan Prince membantah penggunaan AI dalam album anumerta Timeless, menjelaskan bahwa lagu Calabama dilengkapi dengan overdub oleh musisi sesi yang pernah bekerja sama dengan Prince.
- Klarifikasi ini muncul setelah penggemar mempertanyakan keaslian rekaman, terutama pada bagian vokal yang meminta 'horns' namun diisi oleh synthesizer pada arsip aslinya.
- Estate Prince berjanji akan merilis lebih banyak materi dari 'Vault' dan meminta diskusi yang lebih santun dari komunitas penggemar, sembari menegaskan komitmen terhadap nilai 'Love For One Another'.

Pengelola warisan Prince akhirnya angkat bicara setelah gelombang kecurigaan penggemar tentang kemungkinan penggunaan kecerdasan buatan dalam album anumerta Timeless. Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui Instagram, NPG Records dan Prince Management Team menegaskan bahwa seluruh proses produksi album tersebut tidak melibatkan AI sama sekali, dan meminta publik untuk bersikap lebih bijak sebelum menarik kesimpulan.
Album yang dirilis bulan lalu itu memuat sepuluh lagu yang sebelumnya belum pernah dirilis, direkam Prince antara 1977 hingga 2016. Materi tersebut mencakup demo awal, rekaman studio era 80-an dan 90-an, hingga potongan-potongan karya dari tahun 2000-an, termasuk satu rekaman live tahun 2016 dari lagu How Come You Donโt Call Me Anymore?. Namun, perhatian penggemar justru tertuju pada satu lagu, Calabama, yang dianggap memiliki kejanggalan aransemen sehingga memicu spekulasi adanya campur tangan AI.
Menurut keterangan resmi, pada bagian jembatan lagu Calabama, vokal Prince terdengar memanggil 'horns' sebanyak dua kali. Namun, pada multitrack arsip, bagian tersebut justru terisi oleh suara synthesizer. Untuk menghormati arahan kreatif Prince yang kerap melibatkan kelompok horn dalam produksinya, estate kemudian mengumpulkan para pemain horn yang pernah bermain bersamanya untuk mengisi bagian tersebut. Mereka adalah Greg Boyer (trombone), Adrian Crutchfield (saksofon), dan Lynn Grissett (terompet), yang namanya juga tercantum dalam kredit album.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa Calabama adalah satu-satunya lagu dalam Timeless yang mengalami overdub setelah kematian Prince. Seluruh bagian vokal dan instrumen asli yang direkam Prince tetap utuh. โTentu saja, tidak ada AI yang digunakan pada musik Prince,โ demikian bunyi pernyataan tersebut, sekaligus membantah tudingan yang beredar di media sosial.
Lebih jauh, pihak estate menyadari bahwa tidak semua keputusan kreatif akan diterima bulat oleh penggemar. Mereka mengakui bahwa sebagian penggemar mungkin keberatan dengan penyempurnaan Calabama, meskipun dilakukan oleh musisi pilihan Prince dan sesuai dengan visi artistiknya. Namun, mereka juga mengapresiasi dukungan yang datang dari sebagian besar pendengar. โKami memahami tidak semua orang akan setuju dengan setiap keputusan, tetapi kami menghargai semangat, pengetahuan, dan pertanyaan kritis dari para penggemar,โ tulis mereka.
Pernyataan ini juga menyiratkan adanya ketegangan di antara komunitas penggemar Prince, yang terbelah antara yang mendukung langkah estate dan yang merasa bahwa materi anumerta seharusnya dibiarkan apa adanya. Menanggapi hal tersebut, estate menekankan bahwa tidak ada satu atau dua individu pun yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan bisnis Prince, dan mereka berharap komunikasi ke depan dapat berlangsung dengan lebih sehat. โPertanyaan yang tajam dan opini yang kuat adalah hal yang wajar, tetapi sebaiknya disampaikan dengan kebaikan dan rasa hormat, sesuai nilai yang selalu dijunjung Prince, yaitu 'Love For One Another',โ demikian bunyi pernyataan penutup.
Bagi penggemar di Indonesia, polemik ini menjadi pengingat bahwa industri musik global kini tengah bergulat dengan isu etika penggunaan AI dalam produksi karya seni. Beberapa musisi dan estate legendaris lain juga pernah menghadapi tuduhan serupa, seperti kasus The Beatles dengan lagu Now and Then yang memanfaatkan teknologi pemisahan vokal. Namun, kasus Prince menunjukkan bahwa tidak semua teknologi canggih harus dianggap sebagai pengganti sentuhan manusia. Justru, kolaborasi dengan musisi asli yang pernah bekerja bersama Prince menjadi bukti bahwa arsip musik yang belum selesai masih bisa dihadirkan dengan tetap menghormati integritas artistik sang musisi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana estate akan membuka 'Vault' Prince yang disebut memiliki ukuran raksasa dan kedalaman historis. Jika Timeless menjadi preseden, maka penggemar dapat menantikan lebih banyak rilisan yang mungkin juga memerlukan proses penyempurnaan serupa. Namun, keputusan untuk melakukan overdub atau tidak akan selalu menjadi perdebatan. Apakah penggemar akan semakin terbuka terhadap interpretasi ulang karya anumerta, atau justru semakin vokal menuntut kemurnian rekaman asli? Waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, estate Prince tampaknya berkomitmen untuk terus menghadirkan musik dari sang ikon, dengan segala kompleksitasnya.



