Jepang Mulai Beternak Babi Rekayasa Genetik untuk Uji Coba Transplantasi Ginjal ke Manusia
Baca dalam 60 detik
- Startup PorMedTec bersama dua rumah sakit di Jepang mulai mengembangbiakkan babi dengan 69 modifikasi genetik untuk uji klinis transplantasi ginjal ke manusia yang ditargetkan pada 2028.
- Babi-babi ini dikembangkan dari sel impor perusahaan AS eGenesis, dengan modifikasi genetik untuk mencegah penolakan organ oleh tubuh penerima.
- Jika uji coba berhasil, prosedur ini bisa menjadi alternatif bagi pasien gagal ginjal stadium akhir, mengurangi ketergantungan pada donor manusia dan cuci darah.

Jepang mulai melangkah ke era baru transplantasi organ: sebuah perusahaan rintisan di negeri Sakura telah mulai membiakkan babi yang dimodifikasi secara genetik untuk diambil ginjalnya dan dicangkokkan ke manusia. Uji klinis pada manusia ditargetkan paling cepat pada 2028, membuka harapan baru bagi pasien gagal ginjal yang antre panjang menunggu donor.
PorMedTec, perusahaan rintisan dari Universitas Meiji, bersama dengan Rumah Sakit Umum Shonan Kamakura di Prefektur Kanagawa dan Rumah Sakit Universitas Hokkaido di Sapporo, mengumumkan Selasa (21/7) bahwa mereka telah memulai proses pembiakan babi transgenik. Rencananya, perusahaan akan mengajukan rencana uji klinis kepada otoritas terkait pada tahun fiskal berikutnya yang dimulai April 2027. Jika disetujui, uji coba ini akan menjadi yang pertama di Jepang untuk transplantasi ginjal babi ke manusia.
"Kami ingin memajukan ini sebagai pilihan pengobatan bagi pasien gagal ginjal berat, di samping transplantasi antarmanusia dan cuci darah," ujar Genjiro Miwa, presiden PorMedTec, dalam konferensi pers bersama. Target jangka panjangnya, perusahaan berharap mendapatkan persetujuan bersyarat untuk produk ini sebagai produk pengobatan regeneratif pada 2030, dan menjadikannya prosedur standar pada 2033.
Babi-babi yang dikembangkan PorMedTec berasal dari sel babi yang dimodifikasi secara genetik oleh perusahaan bioteknologi Amerika Serikat, eGenesis Inc. Sel-sel tersebut diimpor ke Jepang, lalu digunakan untuk membiakkan babi dengan sifat genetik yang sama. Modifikasi sebanyak 69 gen ini dirancang khusus agar organ babi tidak ditolak oleh sistem kekebalan tubuh manusia, yang selama ini menjadi hambatan terbesar dalam xenotransplantasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang signifikan. Tingkat penyakit ginjal kronis di Indonesia tergolong tinggi, dengan lebih dari 700.000 pasien menjalani cuci darah rutin setiap tahun, sementara jumlah donor ginjal sangat terbatas. Jika teknologi xenotransplantasi terbukti aman dan efektif, bukan tidak mungkin dalam satu atau dua dekade ke depan, pasien di Indonesia juga bisa menjadi penerima manfaat. Namun, tantangan regulasi, etika, dan infrastruktur medis masih harus diatasi. Pemerintah Indonesia perlu mulai mempersiapkan kerangka regulasi untuk pengobatan berbasis rekayasa genetika, termasuk xenotransplantasi, agar tidak tertinggal ketika teknologi ini sudah siap diterapkan secara global.
Para ahli menilai bahwa langkah Jepang ini merupakan terobosan penting, namun masih banyak pertanyaan yang harus dijawab. Misalnya, seberapa besar risiko penolakan kronis atau penularan virus dari babi ke manusia? eGenesis sendiri telah mengklaim bahwa modifikasi genetik yang dilakukan juga mencakup penonaktifan retrovirus endogen babi (PERV) yang berpotensi berbahaya. Namun, uji klinis skala besar tetap diperlukan untuk memastikan keamanan jangka panjang.
Ke depan, keberhasilan uji coba ini tidak hanya akan mengubah peta pengobatan gagal ginjal di Jepang, tetapi juga membuka pintu bagi penggunaan organ babi untuk transplantasi organ lain seperti jantung dan hati. Pertanyaan yang kini menggantung: akankah dunia siap menerima organ dari hewan sebagai solusi medis yang lazim, atau justru akan muncul resistensi etis dan religius yang menghambat adopsinya?



