Idris Jala Divonis Kanker Paru Stadium Lanjut: 'Saya Siap Bertarung'
Baca dalam 60 detik
- Mantan menteri Malaysia Idris Jala mengumumkan diagnosis kanker paru stadium IIIC, dengan massa sebesar bola tenis di paru kiri.
- Penyakit ini terdeteksi setelah batuk berkepanjangan, meski ia telah berhenti merokok 30 tahun lalu; operasi tidak memungkinkan.
- Idris mundur dari jabatan publik dan akan menjalani terapi lanjutan, sementara podcast-nya hiatus sementara.

Mantan menteri Malaysia dan spesialis restrukturisasi perusahaan, Datuk Seri Idris Jala, mengumumkan bahwa dirinya didiagnosis mengidap kanker paru stadium IIIC (3C). Penyakit itu terdeteksi setelah dokter menemukan massa sebesar bola tenis di paru kirinya. Pengumuman mengejutkan ini disampaikan dalam podcast yang ia bawakan bersama putranya, Leon Jala, pada Jumat (24/7).
Idris mengaku sudah mengalami batuk dan kelelahan sejak tahun lalu, namun mengabaikannya hingga batuk menjadi semakin parah. Atas desakan istrinya, ia akhirnya memeriksakan diri ke spesialis paru di Sunway Medical Centre. Pemeriksaan rontgen langsung diikuti CT scan yang mengonfirmasi adanya massa di paru kiri, kemungkinan keterlibatan kelenjar getah bening, dan massa lebih kecil di sisi kanan. Biopsi kemudian memastikan diagnosis kanker paru stadium lanjut.
"Ini benar-benar kejutan bagi saya. Saya tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi," ujar Idris dalam podcast berjudul "Your Test Can Be Your Testimony". Ia menambahkan bahwa ia sudah berhenti merokok sekitar 30 tahun lalu dan tidak pernah menyentuh rokok atau cerutu sejak itu. Dokter menyatakan operasi tidak memungkinkan karena stadium kanker yang sudah lanjut.
Idris akan menjalani serangkaian tes lanjutan, termasuk PET-CT scan, pemindaian otak, tes darah, dan tes genetik untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar dan menentukan terapi yang paling sesuai. Pilihan pengobatan meliputi kemoterapi, terapi target, radioterapi, dan imunoterapi. "Ini akan berat, tapi saya siap bertarung," tegas Idris, seraya menambahkan bahwa iman Kristennya memberinya harapan di tengah perjalanan sulit ini.
Untuk fokus pada pemulihan, Idris telah melakukan sejumlah penyesuaian. Ia mengundurkan diri sebagai co-chairman independen non-eksekutif Sunway Bhd pada 30 Juni setelah menyelesaikan masa jabatan sembilan tahun. Perubahan kepemimpinan di grup konsultasi dan investasinya, Pemandu Associates, juga memungkinkannya berkonsentrasi penuh pada kesembuhan. Podcast "The Game of Impossible" yang ia bawakan bersama putranya akan hiatus untuk sementara, dengan episode terakhir sebelum jeda adalah episode ke-111.
Kabar ini menjadi pukulan berat bagi keluarga. Saat menunggu hasil biopsi, mereka mengadakan pertemuan doa. "Saya tidak mempermanis keadaan. Saya ingin membicarakannya apa adanya. Saya percaya selalu ada cahaya di ujung terowongan," ujar Idris. Putranya, Leon, menegaskan bahwa jeda ini bukan akhir. "Ini hanya istirahat untuk ayah saya. Podcast akan kembali dengan format baru," katanya.
Idris Jala, yang lahir dan besar di Bario, Dataran Tinggi Kelabit, memiliki karier cemerlang. Ia pernah menjabat menteri di Departemen Perdana Menteri Malaysia, mengepalai Unit Manajemen Kinerja dan Pelaksanaan (PEMANDU), serta menjadi CEO Malaysia Airlines. Saat ini ia menjabat chairman dan presiden Pemandu Associates. Diagnosis kanker paru pada seseorang yang telah lama berhenti merokok menyoroti pentingnya deteksi dini dan kewaspadaan terhadap gejala yang sering diabaikan. Pertanyaan besarnya kini: akankah pengalaman Idris Jala mendorong lebih banyak orang untuk melakukan pemeriksaan paru secara rutin, terutama mereka yang memiliki riwayat merokok meski sudah lama berhenti?



