Sri Lanka Kerahkan Militer Lawan Wabah DBD Terburuk dalam Dekade Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 76.000 kasus demam berdarah tercatat sejak Januari 2026, mendekati rekor wabah 2017, dengan 53 kematian dan dominasi strain DENV-2 yang lebih ganas.
- Pemerintah Sri Lanka mengerahkan drone angkatan udara dan personel militer-polisi untuk mengidentifikasi serta membersihkan tempat perindukan nyamuk, terutama setelah siklon Ditwah memperparah kondisi.
- Rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien, sementara otoritas kesehatan masih mempertimbangkan penggunaan vaksin dengue yang efektivitasnya terbatas terhadap beberapa serotipe virus.

Wabah demam berdarah dengue (DBD) yang melanda Sri Lanka sejak awal tahun telah mencapai level kritis, memaksa pemerintah mengerahkan angkatan bersenjata untuk membantu mengendalikan penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini. Dengan lebih dari 76.000 infeksi dan 53 kematian tercatat hingga pertengahan Juli, angka tersebut mendekati rekor wabah besar pada 2017 yang menembus 100.000 kasus.
Langkah luar biasa ini melibatkan drone Angkatan Udara yang memantau genangan air di atap-atap rumah pascahujan muson, serta personel militer dan polisi yang turun langsung memeriksa rumah, lokasi konstruksi, dan sekolah untuk membasmi tempat perindukan nyamuk. Hingga pertengahan Juli, hampir 11.000 lokasi perkembangbiakan nyamuk telah dibersihkan, dan lebih dari 4.000 bangunan dikenakan denda karena terbukti menjadi sarang nyamuk.
Lonjakan kasus terjadi sangat cepat. Pada dua pekan pertama Juli saja, lebih dari 18.000 pasien dirawat di rumah sakit, memaksa fasilitas kesehatan menambah tempat tidur, mengalihfungsikan bangsal, dan memperpanjang jam kerja dokter serta perawat. Rumah Sakit Umum Distrik Negombo, salah satu daerah terdampak terparah, menangani hampir 1.800 pasien dalam waktu kurang dari dua bulan sejak Juni, naik tajam dari sekitar 1.050 pasien pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Kapila Kannangara, Pelaksana Direktur Jenderal Unit Pengendalian Demam Berdarah Nasional, petugas kesehatan publik sudah berada di ambang batas kemampuan. โJumlah pasien tinggi, dan tingkat keparahan kasus juga tinggi,โ ujarnya, seraya menambahkan bahwa sekitar tiga perempat kasus terkait dengan strain DENV-2 yang lebih ganas. Strain ini dikenal menyebabkan gejala lebih berat dan mempercepat lonjakan pasien ke rumah sakit.
Wabah tahun ini diperparah oleh dampak siklon Ditwah, bencana alam terburuk dalam sejarah Sri Lanka yang terjadi pada akhir November 2025. Siklon tersebut merusak infrastruktur kritis dan fasilitas kesehatan, sehingga memperlemah kapasitas respons terhadap wabah. Otoritas kesehatan memperkirakan infeksi akan mulai menurun seiring melemahnya musim hujan pada Agustus, namun memperingatkan potensi lonjakan kembali pada November saat musim hujan kedua tiba.
Bagi Indonesia, pengalaman Sri Lanka menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi wabah DBD yang dipicu oleh perubahan iklim dan kejadian cuaca ekstrem. Indonesia sendiri mencatat lebih dari 140.000 kasus DBD pada 2024, dan kerap menghadapi tantangan serupa dalam pengendalian vektor. Penggunaan teknologi seperti drone untuk pemantauan tempat perindukan nyamuk bisa menjadi inovasi yang patut dipertimbangkan, meskipun implementasinya membutuhkan koordinasi lintas sektor yang kuat.
Pemerintah Sri Lanka juga tengah mempertimbangkan penggunaan vaksin dengue, namun para ahli memperingatkan efektivitasnya terbatas karena kompleksitas virus yang memiliki beberapa serotipe. Dokter Lalindra Dias dari Negombo menambahkan bahwa pola virulensi yang berbeda tahun ini membuat prediksi sulit. โKami tidak bisa memastikan kapan wabah akan berakhir. Kadang lebih lama dari perkiraan,โ katanya. Pertanyaan besarnya, apakah langkah militer dan pembersihan massal cukup untuk menghentikan siklus penularan sebelum musim hujan berikutnya tiba?



