Super Micro Raup Pesanan Rp 900 Triliun, Margin Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Super Micro mengantongi pesanan baru senilai lebih dari 60 miliar dolar AS pada kuartal keempat, mendorong lonjakan saham 17,5 persen.
- Margin kotor perusahaan melesat ke kisaran 15-17 persen dari perkiraan awal 8,2-8,4 persen berkat perubahan bauran pelanggan dan produk.
- Lonjakan permintaan infrastruktur AI dari raksasa teknologi dan penyedia cloud menjadi katalis utama pertumbuhan Super Micro.

Super Micro Computer, pemasok server kecerdasan buatan (AI), mencatatkan rekor pesanan baru senilai lebih dari 60 miliar dolar AS (sekitar Rp 900 triliun) pada kuartal keempat tahun fiskal 2026. Kabar tersebut mendorong harga saham perusahaan melonjak 17,5 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, Selasa (21/7) waktu setempat.
Perusahaan yang berbasis di San Jose, California, itu juga merevisi proyeksi margin kotor menjadi 15 hingga 17 persen untuk kuartal yang berakhir 30 Juni, jauh di atas perkiraan awal yang hanya 8,2-8,4 persen. Manajemen Super Micro menyebutkan perbaikan ini terutama berkat bauran pelanggan dan produk yang menguntungkan.
Lonjakan permintaan terjadi di tengah gencarnya investasi perusahaan teknologi dan penyedia layanan cloud di pusat data untuk mendukung model bahasa besar (LLM) dan aplikasi AI lainnya. Super Micro melaporkan bahwa buku pesanan (backlog) mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pada akhir tahun fiskal 2026.
Meski pesanan membeludak, Super Micro memperkirakan pendapatan kuartalan hanya mencapai ujung bawah kisaran 11 miliar hingga 12,5 miliar dolar AS. Analis yang disurvei LSEG memperkirakan pendapatan 11,67 miliar dolar AS. Perusahaan dijadwalkan merilis laporan keuangan lengkap pada 11 Agustus mendatang.
Sebelumnya, pada Juni lalu, Super Micro mengumumkan rencana menggalang dana 7 miliar dolar AS melalui serangkaian transaksi ekuitas dan ekuitas-terkait. Dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi pesanan senilai sekitar 39 miliar dolar AS dari lebih 20 pelanggan untuk server AI canggih.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, meningkatnya permintaan server AI mendorong investasi di pusat data yang bisa dimanfaatkan Indonesia sebagai hub digital regional. Di sisi lain, ketergantungan pada perangkat keras impor seperti buatan Super Micro bisa memperlebar defisit neraca perdagangan jika tidak diimbangi pengembangan industri komponen dalam negeri. Pemerintah perlu mendorong investasi di bidang manufaktur semikonduktor dan perakitan server untuk menangkap nilai tambah dari booming AI global.
Pertanyaan selanjutnya, apakah Super Micro mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini di tengah persaingan ketat dari Dell, Hewlett Packard Enterprise, dan pemain baru seperti pengembang chip AI? Atau akankah siklus permintaan AI mulai meredup seiring normalisasi belanja infrastruktur?



