Kekhawatiran Belanja AI Berlebihan Jatuhkan Nikkei Lebih dari 2%
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei anjlok 2,69% setelah Alphabet memicu kekhawatiran keberlanjutan investasi AI.
- Saham semikonduktor Jepang seperti Advantest dan Tokyo Electron terpukul, mencerminkan ketergantungan pada sentimen global.
- Koreksi Nikkei sebesar 7% dalam sebulan mengingatkan investor akan risiko overvaluasi sektor teknologi.

Indeks saham acuan Jepang, Nikkei, ambles lebih dari 2% pada perdagangan Jumat (24/7) setelah aksi jual besar-besaran saham Alphabet—induk perusahaan Google—memicu kekhawatiran baru mengenai keberlanjutan belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang membengkak.
Nikkei ditutup melemah 2,69% ke level 64.634,04, sementara indeks Topix yang lebih luas turun 1,28% menjadi 4.002,09. Dalam sebulan terakhir, Nikkei telah kehilangan lebih dari 7% nilainya dan resmi memasuki zona koreksi sejak pekan lalu. Pergerakan indeks ini sangat dipengaruhi oleh bursa saham Korea Selatan yang sarat teknologi, KOSPI, serta indeks semikonduktor Philadelphia di Amerika Serikat.
Kekhawatiran investor kembali mengemuka setelah saham Alphabet ambruk 7% dalam semalam. Perusahaan tersebut melaporkan rencana belanja modal yang lebih tinggi dari perkiraan, namun di saat yang sama arus kasnya terkuras. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa pengeluaran besar-besaran untuk AI mungkin tidak akan bertahan lama. Menurut Kazuaki Shimada, kepala strategi di IwaiCosmo Securities, sentimen negatif dari luar negeri menjadi pemicu utama, bukan faktor domestik Jepang.
Sektor semikonduktor menjadi yang paling terpukul. Advantest, produsen peralatan pengujian chip, anjlok 6,33%, sementara Tokyo Electron, pemasok mesin fabrikasi semikonduktor, kehilangan 5,43%. SoftBank Group, konglomerat teknologi yang banyak berinvestasi di startup AI, ambles 7,42%, dan produsen memori Kioxia turun 4,4%. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa lonjakan permintaan AI mungkin tidak sebanding dengan biaya investasi yang membengkak.
Di sisi lain, saham-saham yang didorong oleh permintaan domestik justru mencatatkan penguatan. Central Japan Railway naik 1,17% dan East Japan Railway menguat 0,6%. Saham perusahaan pelayaran juga hijau: Kawasaki Kisen naik 0,61% dan Mitsui OSK Lines bertambah 0,88%. Otsuka Holdings, produsen minuman Pocari Sweat, menjadi pemenang terbesar di Nikkei dengan kenaikan 1,6%.
Bagi investor Indonesia, koreksi Nikkei menjadi pengingat bahwa sektor teknologi global masih sangat volatil. Banyak perusahaan teknologi Indonesia yang terafiliasi dengan rantai pasok semikonduktor atau bergantung pada pendanaan ventura asing—terutama dari SoftBank—sehingga gejolak di bursa Jepang bisa berdampak pada valuasi startup lokal. Selain itu, pelemahan Nikkei kerap diikuti oleh aksi jual di bursa Asia lainnya, termasuk IHSG, meskipun korelasinya tidak langsung.
Shimada menambahkan bahwa arah Nikkei ke depan akan sangat bergantung pada laporan keuangan kuartal II perusahaan-perusahaan Jepang yang mulai dirilis pekan ini. "Jika prospek mereka kuat, tren indeks bisa berubah," ujarnya. Namun, dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, investor disarankan untuk mencermati fundamental emiten dan tidak hanya bergerak mengikuti sentimen sesaat.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah belanja AI yang agresif benar-benar membuahkan hasil, atau justru menjadi bom waktu bagi pasar saham global? Jawabannya mungkin mulai terlihat dalam beberapa pekan ke depan, seiring rilis laporan keuangan raksasa teknologi dunia.



