Pertempuran Yaman Memanas: 81 Tewas dalam Serangan Houthi Mendekati Selat Bab el-Mandeb
Baca dalam 60 detik
- Serangan darat, roket, dan drone Houthi di pesisir Yaman menewaskan 81 orang, termasuk puluhan milisi, dalam upaya merebut wilayah strategis dekat Selat Bab el-Mandeb.
- Pertempuran ini mengancam jalur pelayaran minyak dunia yang semakin vital setelah Iran memblokade Selat Hormuz, memaksa eksportir seperti Saudi mencari rute alternatif.
- Konflik yang melibatkan aktor regional ini berpotensi memengaruhi harga energi global dan stabilitas keamanan di kawasan, termasuk dampak tidak langsung bagi Indonesia.

Setidaknya 81 orang tewas dalam bentrokan sengit antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, saat pemberontak berusaha menguasai wilayah dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran krusial di Laut Merah. Serangan yang melibatkan artileri darat, roket, dan drone ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Pertempuran meletus pada Kamis (3/9) ketika Houthi melancarkan serangan darat besar-besaran di sepanjang kawasan pesisir, disertai rentetan roket dan serangan drone. Target utama mereka adalah merebut posisi strategis yang menghadap ke Bab el-Mandeb, pintu masuk selatan Laut Merah yang memisahkan Jazirah Arab dari Afrika. Menurut sumber militer dan medis yang dikutip AFP, serangan ini menewaskan 24 tentara pemerintah di pesisir dan 15 lainnya di sekitar Taiz, sementara sedikitnya 42 milisi Houthi dilaporkan tewas di wilayah yang mereka kuasai.
Serangan ini bukan sekadar pertempuran lokal. Bab el-Mandeb adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia melalui Teluk Aden. Bersama Terusan Suez, selat ini menjadi jalur vital bagi pengiriman minyak dari Teluk Persia ke Eropa dan Amerika. Namun, sejak Iran memblokade Selat Hormuz, rute melalui Laut Merah semakin penting, terutama bagi Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia. Houthi, yang selama ini kerap menyerang kapal-kapal Saudi, kini berupaya memperkuat cengkeraman mereka atas wilayah yang dapat digunakan untuk mengganggu lalu lintas kapal.
Serangan ini juga bertujuan memutus jalur pasokan ke kota pelabuhan Mokha yang dikuasai pemerintah, yang telah lama menjadi sasaran blokade. Dengan merebut perbukitan di sekitar Bab el-Mandeb dan Mokha, Houthi berharap dapat mengendalikan akses ke pesisir sebelum melancarkan serangan lebih lanjut. Seorang pejabat Yaman di Aden, yang menjadi basis pemerintah sejak diusir dari Sanaa pada 2014, mengungkapkan bahwa pasukan pemerintah telah mengirim bala bantuan ke Taiz atas perintah Arab Saudi.
Konflik ini berakar pada perebutan kekuasaan yang rumit, diperparah oleh keterlibatan asing. Gencatan senjata rapuh yang disepakati pada Juli lalu runtuh setelah Houthi menyambut pesawat Iran di Sanaa, memicu gelombang serangan baru. Houthi kemudian mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan mulai menyerang kapal-kapalnya, menjadikan Yaman sebagai medan pertempuran terbaru dalam perang regional yang lebih luas.
Bagi Indonesia, konflik di Yaman memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global. Gangguan di Bab el-Mandeb dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, yang pada akhirnya membebani anggaran negara dan daya beli masyarakat. Selain itu, ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi arus perdagangan dan investasi, mengingat Indonesia memiliki hubungan dagang yang erat dengan negara-negara Teluk.
Analis memperkirakan bahwa Houthi akan terus meningkatkan tekanan di sekitar Bab el-Mandeb, memanfaatkan medan yang menguntungkan untuk melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas. Namun, respons koalisi pimpinan Arab Saudi, yang selama ini mendukung pemerintah Yaman, akan menentukan apakah konflik ini akan meluas atau mereda. Pertanyaannya, mampukah komunitas internasional menengahi perdamaian di tengah tarik-menarik kepentingan geopolitik yang semakin kompleks? Atau akankah Bab el-Mandeb menjadi titik api baru yang mengguncang pasar energi global?



