Trump Akan Bahas AI dengan Xi Jinping di KTT September: Persaingan Teknologi Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi akan membahas kecerdasan buatan dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral di Washington pada 24 September.
- Gedung Putih menuduh startup China Moonshot AI mencuri teknologi dari model Claude Fable 5 milik Anthropic, memperkeruh suasana menjelang KTT.
- Pertemuan ini berpotensi memengaruhi kebijakan AI global dan rantai pasok teknologi, termasuk dampaknya bagi Indonesia sebagai pengguna dan pengembang AI.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI) dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada 24 September mendatang. Pernyataan itu disampaikan Trump di sela-sela acara pengumuman inisiatif perlindungan warga AS dari lonjakan tagihan listrik akibat pesatnya pertumbuhan pusat data AI.
"Saya selalu mengatakan bahwa tujuan Amerika harus mendominasi masa depan, dan itu termasuk menjadi negara adidaya nomor satu dalam kecerdasan buatan," ujar Trump dalam acara tersebut. Ia menegaskan bahwa AS saat ini memimpin China dalam perlombaan AI dan ingin mempertahankan posisi itu. "Presiden Xi akan datang pada 24 September, dan kami sudah membicarakannya saat saya di Beijing. Kami akan membahasnya lagi," tambahnya.
Pernyataan Trump muncul sehari setelah Amerika Serikat secara resmi menuduh startup China, Moonshot AI, mencuri teknologi dari model AI canggih milik Anthropic, Claude Fable 5. Penasihat Teknologi Gedung Putih, Michael Kratsios, melalui unggahan di X pada Rabu lalu menyatakan bahwa pihaknya memiliki bukti Moonshot telah melakukan "distilasi" terhadap Fable 5 untuk mengembangkan model terbaru mereka, Kimi K3. Tuduhan ini menambah ketegangan di tengah upaya kedua negara meredakan perselisihan.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengindikasikan bahwa isu pencurian kekayaan intelektual di bidang AI akan menjadi agenda utama dalam pertemuan puncak nanti. "Selalu ada berbagai topik yang muncul. Saya bayangkan ini akan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi presiden dan pemerintahan ini," kata Leavitt dalam jumpa pers. Tuduhan ini berpotensi memperumit persiapan KTT yang sudah dimatangkan oleh para pejabat senior kedua negara.
Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomasi tingkat tinggi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio baru saja bertemu dengan mitranya dari China, Wang Yi, di Manila pekan ini untuk mempersiapkan apa yang ia sebut sebagai "kunjungan yang sangat positif" dari Xi. Sebelumnya, pada pertengahan Mei, Trump mengunjungi Beijing dan sepakat dengan Xi untuk menstabilkan hubungan bilateral meskipun terdapat gesekan di berbagai isu. Saat itu, Trump juga menawarkan untuk menjadi tuan rumah KTT di Gedung Putih pada 24 September.
Bagi Indonesia, persaingan AS-China di bidang AI membawa implikasi strategis. Sebagai negara dengan ekosistem digital yang berkembang pesat, Indonesia menjadi pasar potensial bagi teknologi AI dari kedua kubu. Tuduhan pencurian teknologi dapat memicu kebijakan pembatasan transfer teknologi yang lebih ketat, yang pada gilirannya memengaruhi akses Indonesia terhadap inovasi AI global. Selain itu, jika AS dan China semakin bersaing ketat, Indonesia perlu menyiapkan strategi untuk menjaga kedaulatan data dan mengembangkan kapasitas AI dalam negeri agar tidak sekadar menjadi konsumen.
Ke depan, pertemuan Trump-Xi pada September akan menjadi barometer arah persaingan teknologi global. Akankah kedua negara mampu mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan, atau justru semakin memperdalam jurang pemisah? Jawabannya akan menentukan peta jalan inovasi AI dunia, termasuk posisi Indonesia di dalamnya.



