Drone Rusia Hantam Markas SBU di Pusat Kyiv, Zelenskyy Janji Balasan Setimpal
Baca dalam 60 detik
- Serangan drone Rusia menghantam markas dinas keamanan Ukraina (SBU) di pusat Kyiv, melukai sedikitnya 12 orang dan menghancurkan sebagian gedung.
- Presiden Zelenskyy menuduh Moskow menargetkan langsung kantor kepala SBU, menandai eskalasi signifikan di tengah upaya negosiasi damai yang akan datang.
- Serangan ini terjadi saat utusan AS dijadwalkan mengunjungi Kyiv dan Moskow untuk membahas proposal gencatan senjata, menambah ketegangan diplomatik.

Sebuah drone Rusia menghantam markas Dinas Keamanan Ukraina (SBU) di pusat kota Kyiv pada Jumat (4/9), melukai sedikitnya 12 orang dan menandai serangan pertama terhadap gedung pemerintahan yang dijaga ketat sejak invasi dimulai tahun 2022. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy segera merespons dengan janji pembalasan yang 'nyata dan setimpal', sementara Menteri Luar Negeri Andriy Sybiga menyebut insiden ini sebagai 'eskalasi besar'.
Gedung SBU yang terletak di Jalan Volodymyrska, berseberangan dengan Katedral St Sophia, merupakan simbol kekuatan keamanan Ukraina. Dalam pernyataan di Telegram, Zelenskyy mengungkapkan bahwa drone tersebut diarahkan tepat ke kantor kepala SBU di dalam gedung. Beruntung, kepala SBU sementara, Oleksandr Poklad, tidak berada di lokasi saat serangan terjadi, sebagaimana dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior yang enggan disebut namanya kepada AFP.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan jarak jauh antara Rusia dan Ukraina dalam beberapa bulan terakhir. Namun, menyasar gedung pemerintah di pusat Kyiv yang dikelilingi barikade keamanan merupakan langkah yang jarang terjadi. Foto yang beredar dari media Ukrainska Pravda memperlihatkan asap hitam mengepul dari setidaknya dua jendela di bagian depan gedung, sementara petugas pemadam kebakaran dan ambulans tampak bergegas ke lokasi. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi korban luka, namun belum merinci apakah mereka berada di dalam gedung SBU.
SBU dalam pernyataannya memastikan Poklad selamat dan gedung tersebut 'pasti akan dipulihkan'. Namun, serangan ini meninggalkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pertahanan udara Ukraina, terutama di ibu kota yang seharusnya menjadi zona paling aman. Bagi Ukraina, markas SBU bukan sekadar gedung perkantoran; ia adalah pusat kendali operasi intelijen dan kontra-intelijen yang menjadi tulang punggung perlawanan terhadap agresi Rusia.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan tiba di Kyiv pada Minggu (6/9) untuk membahas proposal perdamaian. Presiden AS Donald Trump membenarkan rencana kunjungan tersebut, dengan menyatakan bahwa mereka membawa 'proposal untuk mengakhiri perang'. Namun, Kremlin menolak berkomentar mengenai jadwal kunjungan ke Moskow yang dilaporkan akan dilakukan pada Sabtu (5/9).
Menanggapi situasi yang memanas, Zelenskyy mengusulkan gencatan senjata selama kunjungan utusan AS berlangsung. Dalam pidato malamnya, ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan melancarkan serangan udara selama periode tersebut, dan menuntut Rusia melakukan hal yang sama. Namun, hingga berita ini diturunkan, Moskow belum memberikan tanggapan resmi terhadap usulan tersebut.
Diplomasi yang dipimpin AS untuk mengakhiri invasi yang telah berlangsung empat setengah tahun ini mengalami kebuntuan dalam beberapa bulan terakhir, sebagian karena fokus Washington yang beralih ke konflik dengan Iran. Serangan terhadap SBU ini dapat menjadi ujian bagi keseriusan kedua belah pihak dalam menempuh jalur negosiasi. Akankah gencatan senjata yang diusulkan Zelenskyy benar-benar terwujud, atau justru menjadi pemicu eskalasi lebih lanjut? Bagi Ukraina, serangan ini adalah pengingat pahit bahwa tidak ada gedung yang benar-benar aman dari jangkauan Rusia, bahkan di jantung ibu kota mereka.



