Status Siaga Gunung Sinabung Naik, BNPB Desak Warga Karo Segera Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung meningkat ke Level III (Siaga) setelah letusan besar melontarkan kolom abu setinggi 3.500 meter.
- Sebanyak 650 jiwa dari 208 kepala keluarga telah mengungsi, dengan 405 jiwa di antaranya berlindung di Posko Jambur Arih Ersada.
- Pemerintah daerah menyiagakan evakuasi susulan dan mensterilkan zona bahaya, sementara dampak abu vulkanik mulai mengancam sektor pertanian dan pendidikan di Karo.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan imbauan mendesak bagi warga di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, untuk segera meninggalkan kawasan rawan menyusul peningkatan status Gunung Sinabung menjadi Level III (Siaga). Kenaikan status ini dipicu oleh letusan besar pada Senin (31/8) yang melontarkan kolom abu setinggi 3.500 meter di atas puncak, mengancam permukiman dan lahan produktif di sekitarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status Siaga sejak letusan tersebut. Pengamatan pada Jumat (4/9) pukul 12.00โ18.00 WIB masih menunjukkan kepulan asap kawah utama berwarna putih tebal setinggi 300โ500 meter, menandakan aktivitas vulkanik yang belum mereda.
Dampak abu vulkanik telah dirasakan signifikan di sejumlah desa, antara lain Ndokum Siroga dan Kuta Tengah di Kecamatan Simpang Empat, serta Payung di Kecamatan Payung. Permukiman warga dan lahan pertanian terpapar tebal, memaksa pemerintah daerah bergerak cepat. "Pemerintah daerah bersama unsur terkait mengarahkan warga yang berada di kawasan terdampak abu vulkanik untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman serta mendistribusikan masker untuk meminimalkan risiko kesehatan," ujar Berton di Jakarta, Sabtu (5/9).
Hingga Jumat (4/9), data BNPB mencatat 208 kepala keluarga atau 650 jiwa telah mengungsi. Sebanyak 405 jiwa di antaranya berlindung di Posko Pengungsian Jambur Arih Ersada, Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Untuk memastikan keselamatan, aparat gabungan dari BPBD, Satpol PP, TNI, dan Polri telah mensterilkan kawasan zona bahaya seperti Danau Lau Kawar dari aktivitas pengunjung. "Dari hasil patroli, kawasan tersebut dipastikan tidak terdapat pengunjung," tegas Berton.
Selain sterilisasi, upaya penanganan darurat mencakup penyiraman debu di pusat Kota Berastagi, penyiagaan Desa Payung untuk evakuasi susulan, serta aktivasi dapur umum tiga kali sehari. Pasokan air bersih juga dijamin, sementara kegiatan belajar mengajar bagi siswa SD Negeri 040475 Tiga Serangkai dialihkan ke lokasi pengungsian. Pelajar SMP yang bersekolah di luar Desa Payung mendapat layanan antar-jemput dari Satpol PP Kabupaten Karo, memastikan pendidikan tetap berjalan di tengah krisis.
Bagi warga Indonesia, khususnya yang berada di kawasan rawan bencana, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan. Erupsi Sinabung yang berulang sejak 2010 menunjukkan bahwa kehidupan berdampingan dengan gunung api menuntut kewaspadaan konstan. Sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi Karo, berisiko mengalami kerugian jangka panjang akibat paparan abu yang merusak tanaman dan kesuburan tanah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana pemerintah daerah dan pusat akan memperkuat infrastruktur mitigasi dan rehabilitasi pasca-bencana. Akankah ada relokasi permanen bagi warga yang tinggal di zona merah? Atau justru investasi dalam sistem peringatan dini dan edukasi publik yang lebih masif? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan ketahanan masyarakat Karo menghadapi ancaman vulkanik yang tak pernah benar-benar berakhir.



