PGA-DP World Tour Rekrut Asian Tour, LIV Golf Kian Terpojok
Baca dalam 60 detik
- Aliansi tiga tur besar—PGA, DP World, dan Asian Tour—resmi terbentuk, memutus hubungan Asian Tour dengan LIV Golf.
- LIV Golf kehilangan mitra strategis di Asia dan sumber pendanaan Saudi, sementara CEO-nya berjuang mencari investasi $350 juta.
- Kesepakatan ini membuka jalur promosi bagi pegolf Asia ke DP World Tour mulai 2027, memperkuat ekosistem golf global.

Aliansi tiga tur pria terkemuka dunia—PGA Tour, DP World Tour, dan Asian Tour—diumumkan pekan lalu, menjadi pukulan telak bagi LIV Golf yang tengah berjuang mencari pendanaan baru. Kesepakatan yang diresmikan dalam pertemuan di The Open Championship, Royal Birkdale, ini langsung berlaku dan mengakhiri kerja sama Asian Tour dengan LIV yang telah berlangsung sejak 2021.
Rory McIlroy, juara Masters, menyambut positif langkah ini melalui media sosial. "Kabar baik. Senang melihat tur-tur bekerja sama demi kebaikan golf internasional," tulisnya. Aliansi ini memperpanjang kerja sama strategis PGA-DP World Tour yang semula akan berakhir tahun depan hingga setidaknya 2029.
Bagi LIV Golf, yang akan menggelar turnamen berikutnya di JCB Club, Staffordshire, Kamis ini, kehilangan Asian Tour berarti pukulan ganda. Sebelumnya, LIV sudah ditinggalkan pendanaan langsung dari Arab Saudi setelah kerajaan mengucurkan lebih dari £3,75 miliar untuk tiga tahun pertama. CEO LIV Scott O'Neil kini tengah berburu investasi $350 juta demi kelangsungan sirkuit yang masih diperkuat nama-nama besar seperti Jon Rahm dan Bryson DeChambeau.
Asian Tour sebelumnya menjadi mitra kunci LIV, menyediakan jalur promosi dan degradasi ke turnamen-turnamen LIV yang hadiahnya mencapai $30 juta. Dua pegolf teratas dalam urutan merit Asian Tour otomatis promosi ke LIV untuk musim 2026. Selain itu, International Series yang didanai Saudi juga menjadi ajang bergengsi bagi bintang LIV yang dilarang bermain di PGA Tour. Namun, sejumlah turnamen tersebut kontroversial karena digelar di Eropa, dianggap melanggar wilayah tradisional DP World Tour.
Dengan aliansi baru ini, Asian Tour kembali ke pangkuan PGA-DP World Tour. Sejumlah turnamen akan kembali menjadi ajang bersama (co-sanctioned) antara DP World Tour dan Asian Tour, seperti sebelum era LIV. Selain itu, pegolf Asia terbaik akan mendapatkan hak bermain di DP World Tour mulai musim 2027. Cho Minn Thant, CEO Asian Tour, menyatakan, "Kami merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk berkolaborasi dengan DP World Tour dan PGA Tour guna meningkatkan Asian Tour bagi anggota, penggemar, dan mitra kami."
Bagi Indonesia, aliansi ini membuka peluang lebih luas bagi pegolf Tanah Air untuk bersaing di level tertinggi Asia dan global. Dengan adanya jalur promosi ke DP World Tour, pegolf Indonesia yang berprestasi di Asian Tour bisa menembus sirkuit Eropa—sesuatu yang sebelumnya terhalang oleh dominasi LIV. Ke depan, turnamen-turnamen Asian Tour yang digelar di Asia Tenggara, termasuk potensi Indonesia, bisa semakin bergengsi dengan kehadiran pemain PGA dan DP World Tour.
LIV Golf, di sisi lain, harus menghadapi kenyataan pahit: tanpa mitra Asia, rencana O'Neil untuk menjadikan turnamen nasional di berbagai negara sebagai bagian dari kalender LIV menjadi sulit terwujud. Asian Tour sebelumnya dianggap sebagai pilar penting strategi ekspansi LIV. Kini, dengan bersatunya tiga tur besar, peta kekuatan golf pria kembali ke status quo sebelum LIV—namun dengan lanskap yang telah berubah drastis. Pertanyaan besarnya: mampukah LIV bertahan tanpa pendanaan Saudi dan tanpa mitra turnamen di Asia?



