Persaingan Sengit: FA Inggris Janjikan Kursi Pelatih untuk Guardiola, Italia Gigit Jari
Baca dalam 60 detik
- Pep Guardiola menjadi rebutan dua raksasa sepak bola Eropa setelah Italia dan Inggris sama-sama mengincar jasanya sebagai pelatih kepala.
- FA Inggris dikabarkan telah memberikan jaminan kepada Guardiola untuk menukangi The Three Lions mulai tahun depan, mengungguli tawaran Italia.
- Situasi ini membuat Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) harus mencari opsi lain jika Guardiola memilih menerima pinangan Inggris.

Pep Guardiola, pelatih paling sukses di era modern, kini berada di persimpangan karier yang menentukan: antara menerima pinangan Timnas Italia atau menunggu kursi pelatih Inggris yang dijanjikan dalam setahun ke depan. Laporan dari media Italia, La Repubblica, mengungkapkan bahwa Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) telah memberikan garansi kepada pelatih asal Spanyol itu untuk menangani The Three Lions mulai musim panas 2025, sebuah tawaran yang langsung mengubah peta persaingan perburuan pelatih.
Sebelumnya, Italia disebut-sebut sebagai kandidat terdepan setelah Guardiola bertemu langsung dengan dua legenda sepak bola Italia, Paolo Maldini dan Leonardo, dalam sebuah pertemuan yang dirahasiakan. Pertemuan itu diyakini membahas proyek jangka panjang FIGC untuk membangun kembali kejayaan Azzurri pasca-kegagalan di Piala Dunia 2022. Namun, kabar dari Inggris membuat rencana tersebut mendadak rumit.
Menurut sumber yang dikutip La Repubblica, FA Inggris tidak hanya menawarkan posisi pelatih, tetapi juga kendali penuh atas program pengembangan pemain muda dan struktur tim senior. Ini menjadi daya tarik besar bagi Guardiola, yang selama ini dikenal sebagai pelatih yang haus akan proyek ambisius. Sebaliknya, Italia hanya menawarkan kontrak standar tanpa jaminan kekuasaan penuh.
Bagi Indonesia, persaingan ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya perencanaan suksesi pelatih. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) kerap kali terlambat dalam mengamankan pelatih berkualitas, seperti yang terlihat dalam perburuan pelatih timnas U-23 beberapa waktu lalu. Jika Indonesia ingin bersaing di level Asia, pendekatan proaktif seperti yang dilakukan Inggris patut dicontoh.
Pakar sepak bola internasional, James Horncastle, menilai bahwa langkah FA Inggris sangat cerdik karena mengantisipasi kekosongan kursi pelatih setelah Gareth Southgate kemungkinan mundur setelah Piala Dunia 2026. "Mereka tidak ingin kehilangan momentum dengan menunggu hingga saat-saat terakhir. Menjanjikan Guardiola sekarang adalah bentuk investasi jangka panjang," ujarnya.
Di sisi lain, Italia harus segera menentukan sikap. Jika Guardiola memilih Inggris, FIGC harus mencari alternatif seperti Roberto Mancini yang pernah sukses membawa Italia juara Euro 2020, atau bahkan pelatih asing lain. Namun, kegagalan mendapatkan Guardiola bisa menjadi pukulan telak bagi ambisi Italia untuk kembali ke puncak sepak bola dunia.
Ke depan, keputusan Guardiola tidak hanya akan menentukan nasib dua tim nasional besar, tetapi juga menjadi indikator tren baru dalam sepak bola global: apakah pelatih top lebih tertarik pada proyek tim nasional yang stabil atau klub dengan tekanan instan? Jawabannya akan diketahui dalam beberapa bulan mendatang.



