Australian Open Batasi Tiket Murah demi Atasi Kemacetan Penonton
Baca dalam 60 detik
- Penyelenggara Australian Open memberlakukan kuota harian untuk tiket ground pass A$49 guna mengurangi antrean panjang dan kepadatan yang terjadi pada edisi 2026.
- Langkah ini diambil setelah rekor 1,36 juta penonton memadati Melbourne Park, memicu keluhan tentang menurunnya kenyamanan menonton.
- Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa turnamen Grand Slam mulai mengutamakan kualitas pengalaman pengunjung di tengah lonjakan popularitas.

Australian Open untuk pertama kalinya akan membatasi jumlah tiket murah yang dijual setiap hari, menyusul keluhan panjangnya antrean dan kepadatan penonton yang menodai gelaran turnamen tenis Grand Slam tersebut pada Januari lalu.
Tennis Australia, selaku penyelenggara, mengumumkan pada Selasa (21/7) bahwa mereka akan menetapkan batas harian untuk penjualan "ground pass" seharga A$49 (sekitar Rp510 ribu) selama pekan pertama babak utama. Keputusan ini diambil karena permintaan diprediksi akan lebih tinggi dari sebelumnya pada edisi 2027.
"Kebijakan ini mencerminkan semakin populernya Australian Open dan akan membantu memastikan para penggemar dapat menikmati semua yang ditawarkan di area Melbourne Park," demikian pernyataan resmi Tennis Australia.
Ground pass memungkinkan pemegangnya berpindah-pindah menonton pertandingan di luar lapangan utama dan sangat diminati oleh penggemar kasual. Namun, lonjakan jumlah penonton dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan antrean panjang untuk memasuki lapangan dan memicu kekhawatiran akan menurunnya kualitas pengalaman menonton.
Pada edisi 2026, Australian Open mencatat rekor kehadiran sebanyak 1.368.043 penonton. Carlos Alcaraz berhasil merebut gelar tunggal putra, sementara Elena Rybakina menjadi juara tunggal putri pada akhir pekan terakhir. Angka ini menunjukkan betapa besarnya animo masyarakat terhadap turnamen tersebut, namun di sisi lain menimbulkan masalah logistik yang serius.
Kebijakan pembatasan ini menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara popularitas dan kenyamanan. Dengan membatasi jumlah ground pass, penyelenggara berharap dapat mengurangi kepadatan di area umum dan memperpendek waktu tunggu penonton. Langkah serupa sebenarnya sudah diterapkan di beberapa turnamen Grand Slam lain, seperti Wimbledon yang membatasi penjualan tiket harian untuk area tertentu.
Bagi Indonesia, kebijakan ini bisa menjadi pelajaran berharga. Meskipun belum memiliki turnamen tenis sekelas Grand Slam, lonjakan penonton pada ajang olahraga besar di dalam negeri, seperti final Piala Indonesia atau konser musik, kerap menimbulkan masalah serupa. Penerapan sistem kuota atau tiket terbatas bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pembatasan ini akan cukup untuk mengatasi masalah, atau justru memicu pasar gelap tiket. Tennis Australia tampaknya harus terus memantau dan menyesuaikan kebijakan ini seiring dengan meningkatnya popularitas Australian Open.



