Noah Lyles: Tak Ada Musim Sepi bagi Sang Juara Olimpiade
Baca dalam 60 detik
- Noah Lyles memenangi heat 100 meter Kejuaraan AS dengan catatan 9,97 detik, menegaskan ambisinya di tahun tanpa Olimpiade atau kejuaraan dunia.
- Lyles menjadi salah satu penggerak utama Ultimate Championships di Budapest, sebuah ajang baru yang dirancang World Athletics untuk menjaga gairah atletik di tahun sepi.
- Partisipasi Lyles di ajang tersebut sempat diragukan, namun kini ia justru ditunjuk sebagai MC utama dan penasihat kreatif.

Bagi Noah Lyles, tidak ada yang namanya musim sepi. Pelari cepat Amerika peraih medali emas Olimpiade itu membuktikannya dengan melaju mulus di babak awal 100 meter Kejuaraan Atletik AS di New York, Kamis (23/7), mencatat waktu 9,97 detik. Di tahun tanpa Olimpiade atau kejuaraan dunia, Lyles justru menunjukkan bahwa rasa laparnya akan kompetisi tak pernah surut.
Kejuaraan nasional AS tahun ini memang kehilangan tensi biasanya. Untuk pertama kalinya sejak 2018, ajang tersebut tidak berfungsi sebagai kualifikasi menuju dua kompetisi global terbesar. Namun, Lyles datang membawa energi berbeda. Dengan kemenangan nyaman di Icahn Stadium, ia akan turun di semifinal Jumat dan diperkirakan juga akan berlaga di nomor 200 meter pada Sabtu.
"Sebagian orang menganggap tahun sepi sebagai waktu untuk bersantai. Saya menang dan tetap beraksi. Saya tidak melihat alasan untuk berhenti melakukan apa yang terbaik, yaitu berlari cepat," ujar Lyles kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak sedang menargetkan puncak performa di satu ajang tertentu, melainkan menjaga konsistensi sepanjang tahun.
Lyles, 29 tahun, termasuk dalam daftar atlet yang otomatis lolos ke Ultimate Championships di Budapest pada September mendatang. Ajang anyar ini merupakan inisiatif World Athletics untuk menjaga sorotan tetap tertuju pada atletik di tengah tahun yang relatif sepi. Sempat diragukan partisipasinya di akhir tahun lalu, Lyles kini justru menjadi salah satu pendukung terkuat kejuaraan tersebut. World Athletics bahkan menunjuknya sebagai "Ultimate MC" dan penasihat kreatif.
Bagi penggemar atletik di Indonesia, kehadiran Ultimate Championships bisa menjadi tontonan menarik di tengah kalender olahraga yang padat. Meski belum ada atlet Indonesia yang dipastikan lolos, ajang ini membuka peluang bagi pelari Tanah Air untuk berkompetisi di level tertinggi jika mampu menembus batas kualifikasi. World Athletics sendiri berharap format baru ini bisa meningkatkan popularitas atletik di kawasan Asia, termasuk Indonesia, yang selama ini lebih akrab dengan sepak bola dan bulu tangkis.
Lyles menegaskan komitmennya untuk tetap bugar hingga Ultimate Championships. "Saya berencana untuk menang. Saya akan menjaga kondisi hingga saat itu tiba. Artinya, saya akan tampil setiap kali bertanding," katanya. Dengan sikap seperti itu, bukan tidak mungkin Lyles akan menjadi bintang utama di Budapest, sekaligus membuktikan bahwa tahun sepi bukanlah alasan untuk berpuas diri.
Pertanyaan besarnya: akankah Ultimate Championships mampu bertahan sebagai agenda tetap World Athletics, atau hanya akan menjadi serpihan di kalender yang padat? Jawabannya tergantung pada antusiasme atlet seperti Lyles dan respons penonton global, termasuk dari Indonesia.



