Rintaro Sasaki Pilih Miami Marlins, Tinggalkan Jalur Pro Jepang Demi Mimpi MLB
Baca dalam 60 detik
- Rintaro Sasaki, pemegang rekor home run sekolah menengah Jepang, menandatangani kontrak dengan Miami Marlins senilai $210.200.
- Keputusan ini mengakhiri spekulasi apakah ia akan kembali ke Stanford atau bergabung dengan Fukuoka SoftBank Hawks.
- Langkah Sasaki mencerminkan tren atlet Jepang yang memilih jalur langsung ke MLB melalui sistem perguruan tinggi AS.

Pemukul asal Jepang, Rintaro Sasaki, resmi memulai karier profesionalnya di Amerika Serikat setelah menandatangani kontrak dengan Miami Marlins. Keputusan ini mengakhiri kebimbangan panjang antara kembali ke bangku kuliah atau meniti karier di liga domestik.
Sasaki, 21 tahun, yang dikenal sebagai pemegang rekor home run sekolah menengah Jepang sepanjang masa dengan 140 pukulan, memilih untuk bergabung dengan Marlins setelah dipilih pada putaran kedelapan draft amatir MLB awal bulan ini. Ia menolak tawaran dari Fukuoka SoftBank Hawks, yang memilihnya di putaran pertama draft Nippon Professional Baseball (NPB) pada Oktober lalu, serta memutuskan untuk tidak kembali ke Stanford University, tempat ia bermain selama dua musim.
"Mimpi saya adalah mencapai liga utama secepat mungkin. Itulah alasan besar mengapa saya memilih Miami. Mereka memberi saya kesempatan luar biasa," ujar Sasaki dalam konferensi pers perkenalannya di Miami, Kamis (24/7). Kontraknya dengan Marlins bernilai $210.200, angka yang relatif kecil untuk standar MLB namun menjadi batu loncatan bagi pemain muda.
Langkah Sasaki mengikuti jejak sejumlah pemain Jepang yang memilih jalur perguruan tinggi Amerika ketimbang sistem pengembangan pemain di NPB. Keputusannya untuk meninggalkan Jepang setelah sukses di sekolah menengah—di mana ia bermain di bawah asuhan Toru Ohtani, ayah dari bintang Shohei Ohtani—menunjukkan ambisinya untuk beradaptasi dengan budaya bisbol Amerika sejak dini.
Sasaki mengaku bahwa keputusan ini tidak mudah. "Saya bolak-balik memikirkannya hingga detik terakhir. Sejak memilih Stanford, saya selalu memiliki keinginan kuat untuk menantang diri di Amerika. Pada akhirnya, keinginan itu menang," katanya. Ia berharap pengalaman dua tahun di Stanford—termasuk belajar bahasa Inggris dan beradaptasi dengan kehidupan kampus yang sibuk—akan membantunya berbaur dengan tim dan kota barunya.
Bagi penggemar bisbol di Indonesia, perjalanan Sasaki menjadi contoh bagaimana atlet muda Jepang semakin berani mengambil jalur non-tradisional untuk mencapai MLB. Fenomena ini juga memicu diskusi tentang sistem pengembangan pemain di Asia, termasuk Indonesia, yang masih mencari model efektif untuk melahirkan talenta kelas dunia. Sasaki, yang baru fasih berbahasa Inggris beberapa tahun lalu, bahkan berencana mempelajari bahasa Spanyol untuk memudahkan komunikasi dengan rekan setimnya yang mayoritas berasal dari Amerika Latin.
"Saya tidak tahu apa hasilnya nanti. Tentu saya membidik panggung utama, dan saya berpikir untuk sampai ke sana. Saya telah memilih jalan ini, jadi saya akan melakukan yang terbaik untuk menjadi lebih baik," ujar Sasaki dalam bahasa Jepang. Pertanyaan besarnya kini: mampukah ia menembus roster utama Marlins dalam waktu dekat, atau akankah ia menghabiskan waktu lebih lama di liga minor?



