Duel Fury vs Joshua di Ambang Kenyataan: Dua Hari Penentu di Thailand dan Arab Saudi
Baca dalam 60 detik
- Tyson Fury dan Anthony Joshua akan menjalani laga pemanasan di dua benua berbeda akhir pekan ini, dengan hasilnya menentukan realisasi duel super kelas berat Inggris.
- Joshua masih bergulat dengan trauma kecelakaan mobil di Nigeria yang merenggut nyawa dua teman dekatnya, sementara Fury lebih fokus pada gimmick dokumenter Netflix.
- Jika keduanya menang tanpa cedera, pengumuman resmi pertarungan diperkirakan berlangsung di Jeddah, meski lokasi final masih tarik ulur antara Inggris, AS, atau Arab Saudi.

Setelah lebih dari satu dekade penuh intrik, negosiasi gagal, dan perang kuasa antar promotor, pertarungan terbesar dalam sejarah tinju Inggris—Tyson Fury melawan Anthony Joshua—akhirnya menggantung pada dua hari kritis akhir pekan ini. Jumat di Pattaya, Thailand, Fury akan menghadapi Mariusz Wach yang berusia 46 tahun, tanpa siaran televisi dan hanya disaksikan penonton terbatas. Sehari kemudian, hampir 6.400 kilometer jauhnya di Jeddah, Arab Saudi, Joshua naik ring melawan Kristian Prenga, petinju Albania dengan rekor 20 kemenangan knockout dan satu kekalahan.
Kontrak pertarungan super ini sudah ditandatangani, tetapi dalam dunia tinju, tinta tidak pernah benar-benar kering sampai bel pertama berbunyi. Jika semuanya berjalan mulus, Fury direncanakan terbang langsung dari Thailand ke Arab Saudi dalam waktu beberapa jam setelah kemenangannya, untuk kemudian berdiri berhadapan dengan Joshua di atas ring dan mengumumkan secara resmi duel yang telah lama dinanti. Namun, risiko cedera—baik cedera ringan seperti keseleo hingga cedera serius—menjadi ancaman terbesar yang bisa menggagalkan rencana ini.
Bagi Joshua, laga ini bukan sekadar mengusir karat ring. Dua kali juara dunia kelas berat itu masih bergulat dengan dampak emosional kecelakaan yang merenggut nyawa sahabatnya, Sina Ghami dan Latif Ayodele. Promotor Eddie Hearn menilai tinju telah "menyelamatkan" Joshua, sebagaimana saat pertama kali ia memulai olahraga ini sebagai pemuda bermasalah di usia 19 tahun. "Setelah kejadian seperti itu, orang bertanya apakah dia akan pernah sama lagi. Tapi semua yang dia tunjukkan di kamp latihan membuktikan dia masih sama," ujar Hearn. Pemulihan fisik pun tak kalah berat: dari nyeri luar biasa saat bergerak di tempat tidur, hingga kembali bersepeda dua jam ketika tubuh bagian atas belum bisa digerakkan.
Sementara itu, Fury menjalani laga pemanasan yang lebih bersifat seremonial. BBC pundit Steve Bunce menilai pertarungan melawan Wach tidak akan pernah dimenangkan oleh Fury dalam kondisi apa pun. "Ini seremonial," katanya. Namun, Bunce memperingatkan risiko terbesar adalah jika Fury tampil buruk dan menemukan kelemahan dalam dirinya. Perjalanan ke Thailand juga sarat dengan kepentingan publisitas: kamera untuk musim ketiga dokumenter Netflix-nya, 'At Home with the Furys', akan menjadi satu-satunya media yang meliput di sisi ring.
Bagi penggemar tinju Indonesia, duel Fury vs Joshua menyita perhatian karena keduanya adalah ikon global yang namanya melampaui batas negara. Di tengah maraknya siaran tinju dunia melalui platform digital, pertarungan ini berpotensi menjadi tontonan yang menjangkau penggemar di Tanah Air, terutama jika disiarkan secara langsung oleh layanan streaming seperti Netflix atau DAZN. Namun, lokasi pertarungan yang masih tarik ulur—antara Inggris, Amerika Serikat, atau Arab Saudi—menjadi kendala akses bagi penonton di zona waktu Asia. Jika digelar di Wembley dengan jam tayang dini hari untuk pasar AS, penggemar Indonesia harus rela begadang di tengah malam.
"Kami berharap, sekarang kontrak sudah ditandatangani, kami akan melihatnya pada Sabtu. Saya rasa kebanyakan orang akan naik pesawat, tapi dia adalah Tyson Fury." — Eddie Hearn, promotor Anthony Joshua.
Jika kedua petinju menang tanpa cedera, perhatian akan segera beralih ke Jeddah. Rencananya, Fury akan terbang langsung dari Thailand dan bergabung dengan Joshua di ring untuk pengumuman resmi. Bunce membayangkan adegan ala WWE: "Mungkin Fury akan naik jet pribadi dan tiba di Jeddah—memberi sedikit drama." Namun, ia menekankan momen itu tidak boleh terlewatkan. Sementara itu, tokoh kunci Arab Saudi, Turki Alalshikh, menyebut pertarungan bisa digelar di Wembley dengan syarat jam mulai tengah malam untuk mengakomodasi penonton Amerika di Netflix, yang membutuhkan perpanjangan jam malam stadion. Meski demikian, bisik-bisik industri mengarah ke Las Vegas atau New York, sementara kontrak Joshua mewajibkan pertarungan di Inggris—meski Hearn tidak menutup kemungkinan pindah ke Amerika.
Apapun yang terjadi dalam dua hari ke depan, dunia tinju akan segera tahu apakah pertarungan terbesar dalam sejarah Inggris ini akan menjadi kenyataan atau hanya tinggal mimpi yang tak pernah terwujud. Satu hal yang pasti: taruhannya tidak pernah setinggi ini, dan semua mata tertuju pada Pattaya serta Jeddah.



