Ah Hock Fried Hokkien Mee Legenda: Sang Juru Masak Berpulang, Warisan Rasa Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Ng Hock Chuan, penggawa generasi kedua di balik Ah Hock Fried Hokkien Noodles yang diakui Michelin, meninggal dunia pada 16 Juli lalu dalam usia 79 tahun.
- Kehilangan ini meninggalkan tanda tanya besar soal kelangsungan warung legendaris di Chomp Chomp Food Centre yang telah beroperasi sejak 1970-an.
- Para pelanggan setia berharap putra-putra Ng yang selama ini membantunya dapat meneruskan tradisi kuliner yang sulit dicari tandingannya.

Dunia kuliner Singapura berduka. Ng Hock Chuan, sosok di balik warung Ah Hock Fried Hokkien Noodles yang namanya tercatat di Michelin Guide, meninggal dunia pada 16 Juli lalu di usia 79 tahun. Kepergiannya meninggalkan celah besar bagi pecinta mi Hokkien gaya lama yang sulit dicari padanannya.
Kabar duka ini pertama kali menyebar melalui unggahan seorang pelanggan setia di Facebook. Pelanggan tersebut, yang enggan disebutkan namanya, menceritakan pengalamannya mendatangi Chomp Chomp Food Centre dengan harapan menikmati seporsi Hokkien mee khas Ah Hock. Betapa terkejutnya ia mendapati warung tutup dan dari pedagang tetangga ia mendapat kabar bahwa sang juru masak telah tiada. "Ketika saya lihat warung tutup, saya tanya pedagang sebelah apakah Om baik-baik saja. Mereka dengan pelan memberi tahu bahwa beliau sudah meninggal," tulisnya.
Ng Hock Chuan bukanlah sembarang penjual mi. Ia adalah putra keempat dari Ng Seng, salah satu dari dua bersaudara yang disebut-sebut sebagai perintis mi Hokkien khas Singapura yang mulai berjualan di Rochor Road pada tahun 1950-an. Pada 1966, Ng muda memutuskan membuka usaha sendiri di kawasan Serangoon Gardens, sebelum akhirnya menetap di Chomp Chomp Food Centre pada dekade 1970-an. Selama lebih dari lima dekade, ia setia di balik wok, menyajikan hidangan yang memadukan mi kuning dan bihun tipis dengan udang, cumi, serta irisan daging babiโsemuanya dibanderol mulai S$4 per porsi.
Kualitas konsisten dan cita rasa otentik membuat Ah Hock Fried Hokkien Noodles diakui Michelin Guide Singapura sejak 2018. Pengakuan itu tidak datang tiba-tiba. Pelanggan setia menggambarkan Ng sebagai sosok yang rendah hati dan penuh dedikasi. "Om tidak pernah keras atau pamer. Ia selalu tersenyum kecil pada pelanggan, lalu kembali ke wok dengan fokus penuh," kenang seorang pelanggan yang tumbuh besar dengan mi Hokkien buatannya.
Bagi penggemar kuliner di Indonesia, kepergian Ng Hock Chuan menjadi pengingat betapa rapuhnya warisan kuliner tradisional. Di tengah maraknya gerai mi instan dan makanan cepat saji, sosok seperti Ng adalah penjaga cita rasa otentik yang diwariskan turun-temurun. Di Indonesia sendiri, banyak pedagang mi legendaris yang juga mulai langka penerusnya. Fenomena serupa terjadi pada mi ayam, bakmi, dan soto yang resepnya dipegang erat oleh generasi tua. Pertanyaannya, mampukah generasi muda mempertahankan tradisi tanpa mengorbankan rasa?
Belum ada pernyataan resmi dari pihak keluarga mengenai nasib Ah Hock Fried Hokkien Noodles ke depan. Namun, banyak pelanggan berharap putra-putra Ng yang selama ini membantunya di dapur dapat mengambil alih wok dan melanjutkan warisan sang ayah. "Mi Hokkien ini tak terkalahkan di masa jayanya. Sampai sekarang saya belum menemukan yang rasanya sama," tulis seorang komentator di Facebook. Harapan serupa juga disuarakan oleh pelanggan lain yang menyebut Ng sebagai salah satu master chef mi Hokkien terbaik.
Ah Hock Fried Hokkien Noodles beralamat di 20 Kensington Park Rd, #01-27 Chomp Chomp Food Centre, Singapura 557269. Sebelum tutup, warung buka Selasa-Jumat pukul 17.30-22.00, Sabtu 16.30-22.00, dan Minggu 16.30-21.00, tutup setiap Senin. Kini, warung itu tutup tanpa kepastian. Mampukah generasi penerus menghidupkan kembali wok yang sudah puluhan tahun menyala? Atau akankah cita rasa itu ikut terkubur bersama sang empunya?



