Militan Jepang Pelaku Serangan Bandara Tel Aviv 1972 Meninggal di Beirut
Baca dalam 60 detik
- Kozo Okamoto, anggota Japanese Red Army yang selamat dari serangan mematikan di Bandara Lod 1972, meninggal di usia 78 tahun di pinggiran Beirut.
- Okamoto dihukum seumur hidup oleh Israel namun dibebaskan dalam pertukaran tahanan 1985, lalu hidup di Lebanon hingga akhir hayat.
- Kematiannya menutup babak panjang sejarah terorisme internasional yang melibatkan warga Jepang di Timur Tengah.

Kozo Okamoto, satu dari tiga pelaku serangan brutal di Bandara Internasional Tel Aviv pada 1972 yang menewaskan puluhan orang, dikonfirmasi meninggal dunia di Lebanon. Kelompok Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) yang menaunginya selama masa pelarian mengumumkan kabar duka itu pada Kamis (24/7). Okamoto berusia 78 tahun.
Serangan yang terjadi pada 30 Mei 1972 itu dikenal sebagai pembantaian Bandara Lod. Ketika itu, Okamoto bersama dua rekannya dari Japanese Red Army (JRA) tiba dengan pesawat Air France, lalu mengeluarkan senapan serbu dan granat dari tas mereka. Mereka menembaki para penumpang dan staf bandara tanpa pandang bulu. Lebih dari dua puluh orang tewas, puluhan lainnya luka-luka. Dua pelaku tewas di tempat, sementara Okamoto ditangkap hidup-hidup.
Okamoto kemudian diadili oleh pengadilan militer Israel dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, ia hanya menjalani 13 tahun masa tahanan. Pada 1985, ia dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan PFLP. Setelah bebas, Okamoto memilih tinggal di Lebanon, negara yang menjadi basis operasi kelompok tersebut.
Kehidupan Okamoto di Lebanon tidak sepenuhnya tenang. Pada 1997, ia kembali ditangkap oleh otoritas setempat bersama empat anggota JRA lainnya karena kasus pemalsuan paspor. Ia menjalani hukuman tiga tahun penjara dan dibebaskan pada 2000. Setelah itu, Lebanon memberinya suaka politik. Okamoto dikenal sebagai sosok yang tidak pernah menyesali perbuatannya dan tetap setia pada ideologi radikalnya hingga akhir hayat.
Kematian Okamoto menutup salah satu episode paling kelam dalam sejarah terorisme internasional yang melibatkan warga Jepang. Japanese Red Army sendiri adalah kelompok militan sayap kiri yang aktif pada 1970-an dan 1980-an, dikenal karena aksi-aksi kekerasan di luar Jepang, termasuk pembajakan pesawat dan serangan bersenjata. Kelompok ini bubar pada awal 2000-an, namun beberapa anggotanya masih hidup dalam pelarian atau telah menjalani hukuman.
Bagi Indonesia, kisah Okamoto menjadi pengingat akan bahaya radikalisme lintas batas. Meski JRA tidak memiliki jejak operasi di Nusantara, afiliasi ideologis dengan kelompok-kelompok ekstremis global pernah menjadi perhatian aparat keamanan Indonesia pada era Orde Baru. Jejaring terorisme internasional saat itu kerap menggunakan Indonesia sebagai tempat transit atau persembunyian, seperti kasus pelarian anggota JRA yang sempat terdeteksi di Jakarta pada 1980-an.
Ke depan, kematian Okamoto mungkin tidak akan mengubah peta keamanan global secara signifikan. Namun, ia meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana negara-negara menangani mantan militan yang telah menjalani hukuman namun tetap tidak menunjukkan pertobatan. Akankah Lebanon terus menjadi tempat perlindungan bagi figur kontroversial semacam itu?



