Dua Pekerja PLTA Selamat Setelah 10 Hari Terjebak di Terowongan Nepal: Harapan di Tengah Tragedi Himalaya
Baca dalam 60 detik
- Dua teknisi asal Nepal ditarik hidup-hidup dari reruntuhan proyek listrik tenaga air, menembus keputusasaan keluarga yang telah menggelar ritual pemakaman simbolis.
- Operasi penyelamatan yang melibatkan pakar internasional ini menjadi titik balik setelah bencana longsor es dan lumpur di perbatasan China-Nepal menewaskan lebih dari 1.200 orang.
- Keberhasilan ini menyoroti tantangan logistik bantuan kemanusiaan di kawasan terpencil, sekaligus memicu pertanyaan tentang keselamatan infrastruktur energi di zona rawan bencana.

Dua pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal ditarik dalam keadaan hidup dari terowongan yang terkubur material longsor, Jumat (5/9/2026). Momen yang disebut penyelamat sebagai keajaiban ini terjadi pada hari kesepuluh upaya pencarian pasca-bencana banjir bandang di kawasan Himalaya yang telah menewaskan sedikitnya 1.280 orang.
Video yang dirilis Kementerian Energi Nepal memperlihatkan seorang pria dibopong keluar dari lubang berlumpur, lalu digendong menuju helikopter evakuasi. Rekaman lain menunjukkan pria kedua diusung dengan tandu, tangan bertumpu dalam doa. Keduanya diidentifikasi sebagai Sanjay Shah (30), mandor mekanik, dan Kabir Maharjan (45), pengawas mekanik. Shah dilaporkan dalam kondisi stabil, sementara Maharjan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit Kathmandu.
Menteri Energi Biraj Bhakta Shrestha menegaskan operasi pencarian di terowongan lain terus berlanjut. "Selama masih ada napas, masih ada harapan," ujarnya, seraya mengajak semua pihak terus mendoakan korban. Keberhasilan ini menjadi titik terang pertama setelah sebelumnya tidak ada satu pun pekerja terowongan yang dikonfirmasi selamat. Tim penyelamat yang dibantu ahli dari India, China, dan Korea Selatan sempat berkali-kali terhambat lapisan puing padat.
Arnold Dix, presiden Asosiasi Internasional Terowongan dan Ruang Bawah Tanah yang memimpin operasi dari jarak jauh, menyebut upaya ini kembali berada di "wilayah keajaiban" setelah seminggu penuh duka. Sebelum penyelamatan, tim mendeteksi respons lemah dari dalam terowongan—sebuah kata dalam bahasa Nepal, "hunchha", yang berarti "ya" atau "oke". Dix, yang juga penasihat kunci dalam penyelamatan 41 pekerja India pada 2023, tengah dalam perjalanan menuju Nepal untuk bergabung langsung.
Bencana yang dipicu runtuhnya gletser dan tebing di perbatasan China-Nepal pada 26 Agustus itu memicu gelombang raksasa yang disebut Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, sebagai "tsunami Himalaya". Air bah menghancurkan jalan, jembatan, dan bendungan, menyapu permukiman hingga lanskap setempat bagaikan puzzle yang kehilangan kepingan. Keluarga korban yang masih mencari sanak saudara mulai menggelar pemakaman simbolis—tanda keputusasaan yang makin dalam.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan risiko pembangunan infrastruktur di kawasan rawan bencana. Dengan banyaknya proyek PLTA di daerah pegunungan seperti Sumatra dan Sulawesi, standar keselamatan dan sistem peringatan dini menjadi keniscayaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat protokol tanggap darurat, terutama di lokasi terpencil yang sulit dijangkau.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa besarnya skala kehancuran menyulitkan penyaluran bantuan. Kepala PBB di Nepal, Lila Pieters Yahia, menyebut akses ke daerah terdampak "sangat, sangat, sangat sulit". Kargo drone dan porter tengah dipertimbangkan untuk menjangkau komunitas terisolasi. Pertanyaannya kini: apakah keberhasilan penyelamatan ini mampu mengubah arah operasi kemanusiaan yang masih bergulat dengan waktu dan medan ekstrem?



