Mengintip Dapur Hiu: Program Baru Singapore Oceanarium Buka Rahasia Perawatan Predator Laut
Baca dalam 60 detik
- Singapore Oceanarium meluncurkan tur eksklusif 60 menit yang mengungkap teknik pemberian makan hiu, mulai dari broadcast feeding hingga target feeding, dengan kapasitas maksimal 12 peserta.
- Program ini tidak hanya menawarkan akses ke area pendukung dan perlengkapan penyelam, tetapi juga menekankan aspek kesejahteraan hewan dan konservasi, termasuk keberhasilan melepasliarkan ikan pari bowmouth.
- Dengan harga S$39 per orang (belum termasuk tiket masuk), pengalaman ini menjadi daya tarik baru bagi wisatawan Indonesia yang ingin memahami peran hiu dalam ekosistem laut.

Singapore Oceanarium, salah satu destinasi wisata bahari terkemuka di Asia Tenggara, meluncurkan program baru bertajuk Ocean In Focus: Apex Predators yang memberikan akses eksklusif ke area belakang panggung perawatan hiu. Mulai 14 Juli bertepatan dengan Hari Kesadaran Hiu Sedunia, pengunjung dapat menyaksikan langsung bagaimana para spesialis hewan menyiapkan makanan dan memberi makan predator laut tersebut menggunakan teknik khusus.
Program berdurasi 60 menit ini dirancang untuk kelompok kecil—maksimal 12 orang—dan dipandu oleh tim perawatan hewan. Setiap peserta mendapatkan lanyard, kartu identifikasi spesies hiu, serta gantungan kunci plush Dunkleosteus sebagai kenang-kenangan. Tur dimulai dari galeri publik, tempat peserta mempelajari predator purba yang pernah menguasai lautan, lalu berlanjut ke area pendukung yang biasanya tertutup bagi umum.
Di area tersebut, pengunjung dapat mengamati tiga metode pemberian makan: broadcast feeding (menebar makanan), target feeding (memberi makan sasaran), dan dive target feeding (penyelam memberi makan langsung). Mereka juga berkesempatan memegang spesimen hiu asli, telur hiu, dan memeriksa setelan chainmail yang dikenakan penyelam saat operasi pemberian makan. “Perbedaan terbesarnya adalah perubahan perspektif,” ujar Elyn Tan, Manajer Pendidikan Singapore Oceanarium. “Kami ingin berbagi cerita di balik layar karena selama ini publik hanya membaca papan informasi. Mendengar langsung cerita dari perawatnya membuat perbedaan besar.”
Jadwal tur diatur dua kali sehari: pagi hari menampilkan broadcast feeding, sore hari target feeding. Pada hari Rabu, hanya tersedia sesi sore. Jika beruntung, peserta bisa menyaksikan dive target feeding sebagai bonus. Penyesuaian jadwal ini dilakukan demi mengikuti ritme alami hewan. “Kami bekerja sesuai jadwal hewan untuk memastikan rutinitas mereka semirip mungkin dengan lingkungan alami,” tambah Tan.
Lebih dari sekadar atraksi wisata, program ini menyoroti komitmen Oceanarium terhadap kesejahteraan hewan dan konservasi. Nicholas Derbyshire, Direktur Senior Perawatan Hewan, menegaskan bahwa fasilitas ini memiliki departemen kesejahteraan khusus dan tim dokter hewan yang besar. “Semua perawatan kesehatan terjadi di balik layar, dan publik jarang menyadarinya,” katanya. Oceanarium juga aktif dalam program penangkaran dan pelepasliaran. Salah satu pencapaiannya adalah menjadi fasilitas pertama di dunia yang berhasil membiakkan, membesarkan, dan melepasliarkan ikan pari bowmouth (Rhina ancylostoma) ke alam liar.
Selain itu, Oceanarium menyumbangkan telur hiu macan tutul Indo-Pasifik ke program StAR di Raja Ampat, Indonesia, tempat spesies tersebut sebelumnya dinyatakan punah secara fungsional. Mereka juga mentransfer hiu karang sirip putih dan hiu karang abu-abu ke Ocean Park Hong Kong dan Burger's Zoo untuk tujuan penangkaran, edukasi, dan konservasi. “Akuarium biasanya berfokus pada atraksi, sedangkan oceanarium adalah fasilitas riset yang bisa dijelajahi tamu,” ujar Derbyshire.
Bagi wisatawan Indonesia, program ini menawarkan pengalaman unik yang jarang ditemukan di dalam negeri. Meskipun Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas laut, akses ke fasilitas riset dan edukasi semacam ini masih terbatas. Dengan harga yang relatif terjangkau, Ocean In Focus: Apex Predators bisa menjadi alternatif liburan edukatif bagi keluarga atau kelompok pelajar yang ingin memahami lebih dalam tentang konservasi hiu. Pertanyaannya, mampukah destinasi wisata bahari di Indonesia mengikuti jejak serupa untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga predator puncak lautan?



