Stasiun Bergaya Yukata: Kinosaki Onsen Sambut Wisatawan dengan Tradisi Keramahan Musim Panas
Baca dalam 60 detik
- JR Kinosakionsen Station di Hyogo, Jepang, memulai tradisi musim panas dengan staf berseragam yukata sejak 18 Juli, memperkuat citra kota pemandian air panas sebagai satu penginapan tradisional.
- Inisiatif JR West yang berlangsung sekitar 20 tahun ini dijadwalkan pada akhir pekan dan hari libur hingga 9 Agustus, termasuk saat festival Furusato pada 4 Agustus.
- Tradisi ini tidak hanya menyambut wisatawan tetapi juga mengangkat nilai budaya lokal, menginspirasi destinasi wisata di Indonesia untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam meningkatkan pengalaman pengunjung.

Stasiun JR Kinosakionsen, pintu gerbang menuju resor pemandian air panas Kinosaki Onsen di Prefektur Hyogo, Jepang, memulai tradisi musim panasnya pada 18 Juli dengan mengenakan yukata—kimono katun ringan khas musim panas—kepada para staf yang bertugas di gerbang tiket. Langkah ini bukan sekadar seragam, melainkan simbol keramahan yang telah mengakar selama dua dekade.
Kinosaki Onsen memiliki konsep unik: seluruh kota resor diibaratkan sebagai satu penginapan tradisional Jepang. Stasiun adalah pintu masuknya, losmen lokal adalah kamar tamu, dan pemandian umum adalah bak mandi bersama. Dengan staf stasiun yang mengenakan yukata, pengunjung langsung merasakan atmosfer khas kota pemandian yang hangat dan autentik. Inisiatif yang digagas West Japan Railway Co. (JR West) sekitar 20 tahun lalu ini kini menjadi tradisi musim panas yang dinanti.
Tidak hanya staf di gerbang tiket, karyawan di loket Midori-no-madoguchi juga mengenakan mantel festival tradisional yang disebut happi saat bertugas. Tradisi ini dijadwalkan berlangsung setiap akhir pekan dan hari libur nasional hingga 9 Agustus. Puncaknya pada 4 Agustus, saat Kinosaki Onsen Furusato Festival digelar dengan deretan kios di sepanjang jalan kota.
Seorang wisatawan pria berusia 55 tahun dari Shimonoseki, Yamaguchi, yang baru pertama kali mengunjungi Kinosaki Onsen bersama istrinya, mengungkapkan kegembiraannya. "Kami ingin menikmati perjalanan dengan kereta, jadi kami mencari resor pemandian air panas yang dekat dengan stasiun. Melihat staf berseragam yukata adalah bentuk keramahan yang menyegarkan, dan kami sangat senang. Ini membangkitkan semangat dan pasti membuat eksplorasi kota lebih menyenangkan," ujarnya.
Kozue Miyashita, kepala stasiun JR Kinosakionsen, menambahkan, "Musim liburan musim panas sudah dimulai, dan laut juga dekat. Kami berharap orang-orang datang dengan kereta dan mengunjungi kota pemandian kami, di mana yukata sangat cocok." Pernyataan ini menegaskan bahwa tradisi yukata bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari strategi pariwisata terpadu yang menghubungkan transportasi, akomodasi, dan atraksi lokal.
Bagi Indonesia, tradisi seperti ini dapat menjadi inspirasi. Destinasi wisata lokal, terutama yang mengusung konsep budaya dan alam, bisa mengadopsi pendekatan serupa untuk meningkatkan pengalaman pengunjung. Misalnya, staf di kawasan wisata seperti Ubud atau Taman Mini Indonesia Indah dapat mengenakan pakaian tradisional saat bertugas, menciptakan kesan mendalam bagi wisatawan. Namun, tantangannya adalah konsistensi dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, seperti yang dilakukan JR West dan pemerintah kota Toyooka.
Ke depan, tradisi yukata di stasiun Kinosaki Onsen diperkirakan akan terus berlanjut dan bahkan mungkin diperluas. Pertanyaannya, akankah tradisi serupa diadopsi oleh destinasi wisata di Indonesia untuk memperkuat identitas budaya dan keramahan? Atau justru akan menjadi pembeda yang membuat Kinosaki Onsen semakin eksklusif di mata wisatawan global?



