Jet Kepresidenan Hadiah Qatar: Trump Kembali ke Pesawat Lama Selama Sebulan
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump akan menggunakan pesawat Air Force One versi lama selama sekitar satu bulan, sementara jet baru pemberian Qatar menjalani peningkatan sistem keamanan.
- Jet baru yang mencolok itu menuai sorotan karena tidak dilengkapi sistem deteksi misil dan perlindungan setara pesawat lama, serta statusnya sebagai hadiah dari negara asing.
- Penghentian sementara ini memicu spekulasi tentang keamanan penerbangan presiden, terutama setelah Trump melakukan pergantian pesawat mendadak di Inggris pekan lalu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk sementara waktu kembali menggunakan pesawat Air Force One versi lama selama sekitar satu bulan, menyusul rencana peningkatan sistem pada jet baru yang merupakan hadiah dari pemerintah Qatar. Keputusan ini diumumkan oleh Gedung Putih pada Senin (21/7) setelah jet kepresidenan anyar itu menjadi sorotan tajam terkait kelengkapan sistem pertahanan dirinya.
Jet baru dengan corak merah, putih, dan biru tua itu memang telah menjadi perbincangan sejak pertama kali digunakan. Selain statusnya sebagai hadiah dari negara asingโyang jarang terjadi dalam sejarah kepresidenan ASโpesawat tersebut dinilai tidak memiliki sistem deteksi misil dan perlindungan elektronik yang setara dengan pesawat-pesawat Air Force One generasi sebelumnya. Ketiadaan fitur ini dianggap sebagai celah keamanan yang serius, mengingat Trump kerap menjadi sasaran ancaman, termasuk dari Iran yang ia sebut sebagai ancaman nomor satu.
Kontroversi memuncak ketika Trump meninggalkan KTT NATO di Turki menggunakan pesawat lama, lalu melakukan pemberhentian tak terjadwal di Pangkalan Udara Mildenhall, Inggris. Di sana, ia berganti ke jet baru yang telah menunggu. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa pesawat baru itu sepenuhnya aman untuk perjalanan presiden, namun akan menjalani "peningkatan dan penyempurnaan tambahan" pada musim gugur. Selama proses itu, Trump akan kembali menggunakan pesawat lama.
Trump sendiri, saat kembali ke Washington pada Minggu malam, mengatakan bahwa pesawat baru akan "dimaksimalkan" kemampuannya. Ia membantah bahwa pergantian pesawat di Inggris terkait masalah keamanan, meskipun ia mengakui bahwa ancaman terhadap dirinya selalu ada. Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa pemberhentian di Mildenhall adalah untuk menunjukkan pesawat baru kepada personel militer AS di sana.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian alutsista dan kehati-hatian dalam menerima hibah asing untuk aset vital negara. Pengalaman AS dengan jet hadiah Qatar menunjukkan bahwa hibah semacam itu bisa membawa konsekuensi teknis dan politis yang kompleks. Indonesia sendiri, yang tengah memodernisasi armada kepresidenan, dapat menarik pelajaran tentang perlunya standar keamanan ketat tanpa bergantung pada pihak luar.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah jet baru itu benar-benar akan mencapai standar keamanan yang diharapkan setelah upgrade, atau justru akan terus menjadi sumber kontroversi. Sementara itu, publik AS dan dunia akan mengamati apakah penggunaan pesawat lama selama sebulan ini akan memengaruhi agenda perjalanan Trump yang padat.



