Bristol Myers Borong Superkomputer AI Nvidia untuk Percepat Riset Obat
Baca dalam 60 detik
- Bristol Myers Squibb menjadi perusahaan farmasi pertama yang mengadopsi sistem DGX SuperPOD berbasis arsitektur Vera Rubin dari Nvidia untuk riset obat.
- Investasi ini memungkinkan perusahaan menguji puluhan kandidat obat secara paralel, menggantikan kapasitas sebelumnya yang hanya belasan.
- AI telah memangkas waktu produksi obat uji hingga 30%, dan Bristol Myers menargetkan efisiensi 50% dalam beberapa tahun ke depan.

Bristol Myers Squibb mengumumkan pembelian sistem komputasi kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru dari Nvidia, menandai langkah agresif raksasa farmasi itu dalam mempercepat penemuan dan pengembangan obat. Sistem DGX SuperPOD berbasis arsitektur Vera Rubin ini menjadi yang pertama diadopsi oleh perusahaan ilmu hayati di dunia.
Keputusan Bristol Myers menggarisbawahi persaingan sengit di industri farmasi global untuk mengintegrasikan AI dalam riset. Perusahaan berlomba mengidentifikasi target obat lebih cepat dan meningkatkan probabilitas keberhasilan uji klinis. Dengan SuperPOD baru, Bristol Myers dapat memproses puluhan kandidat obat secara simultan di tahap awal pengembangan, naik drastis dari kapasitas sebelumnya yang hanya belasan.
Robert Plenge, kepala riset Bristol Myers, menyatakan bahwa sistem ini memungkinkan siklus pengujian kandidat obat yang jauh lebih masif. "Dulu kami hanya mampu menguji sepuluh kandidat, sekarang bisa puluhan," ujarnya. Plenge juga mengungkapkan bahwa AI telah memangkas waktu produksi obat untuk uji klinis sebesar 20โ30 persen, dan target ke depan bisa mencapai 50 persen.
Greg Meyers, kepala digital dan teknologi Bristol Myers, menambahkan bahwa investasi ini didorong oleh kebutuhan komputasi yang melonjak seiring penggunaan model AI yang lebih besar. Sistem baru ini juga lebih hemat energi, dengan kapasitas komputasi per watt sepuluh kali lipat lebih baik. "Listrik tidak semakin murah," kata Meyers, menekankan efisiensi sebagai pertimbangan utama.
Bagi Indonesia, tren ini membawa implikasi penting. Industri farmasi nasional, yang masih bergantung pada riset konvensional, perlu mulai mengadopsi AI agar tidak tertinggal dalam persaingan global. Keterbatasan infrastruktur komputasi dan sumber daya manusia menjadi tantangan utama. Namun, kolaborasi dengan perusahaan teknologi global bisa menjadi jalan pintas untuk mempercepat transformasi digital di sektor kesehatan dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana AI akan mengubah lanskap riset obat di negara berkembang. Apakah perusahaan farmasi Indonesia akan mengikuti jejak Bristol Myers, atau justru semakin bergantung pada lisensi teknologi dari luar? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam rantai nilai farmasi global di era kecerdasan buatan.



