Hujan Abu Gunung Anak Krakatau Mulai Guyur Pandeglang, Warga Diminta Waspada
Baca dalam 60 detik
- Erupsi GAK menyebabkan hujan abu ringan di sejumlah kecamatan Pandeglang, Banten, Sabtu (5/9/2026).
- Warga melaporkan mata perih saat berkendara, namun situasi belum memicu kepanikan massal.
- BPBD setempat terus memantau sebaran abu dan mengimbau warga menggunakan masker serta kacamata pelindung.

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terjadi pada Sabtu (5/9/2026) kini mulai berdampak langsung ke permukiman warga di Kabupaten Pandeglang, Banten. Hujan abu vulkanik tipis dilaporkan menyelimuti sejumlah kecamatan, memicu keluhan gangguan pernapasan dan iritasi mata di kalangan warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Bahrul, seorang warga Kecamatan Jiput, mengaku merasakan sensasi perih di mata saat mengendarai sepeda motor melintasi wilayah tersebut. "Tadi dari Jiput menuju rumah, mata terasa perih karena debu yang mulai bertebaran," ujarnya saat dihubungi, Sabtu. Ia juga menyebut getaran kecil sempat terasa di dalam rumah, menandakan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.
Fenomena ini terbilang baru bagi warga setempat. Bahrul menuturkan, meski debu mulai menumpuk di teras rumah, tidak ada kepanikan berarti. "Sementara tidak panik, hanya mulai merasakan debu di teras-teras rumah," katanya. Namun, ia mengakui bahwa kondisi ini belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga warga masih beradaptasi dengan situasi yang tidak biasa.
Di sisi lain, tim Pusdalops BPBD Pandeglang mengonfirmasi bahwa hujan abu juga telah mencapai wilayah Pasauran, Kecamatan Carita. Deni, anggota tim tersebut, menyebutkan ketebalan abu yang turun masih tergolong tipis. "Baru dapat laporan abu sudah sampai ke Pasauran," ungkapnya, seraya menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pos pengamatan gunung api untuk memantau perkembangan.
Meski belum ada laporan kerusakan signifikan, dampak abu vulkanik tidak bisa dianggap remeh. Paparan abu dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Untuk itu, warga di sekitar kawasan terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker serta kacamata pelindung.
Secara historis, erupsi GAK yang terletak di Selat Sunda memang kerap memicu hujan abu di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Letusan besar pada 2018 bahkan memicu tsunami yang menewaskan ratusan jiwa. Meski aktivitas kali ini relatif kecil, potensi eskalasi tetap perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah dan masyarakat.
Bagi warga Pandeglang yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata, seperti di kawasan Carita dan Anyer, hujan abu ini berpotensi mengganggu aktivitas wisata. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada penutupan jalur wisata atau imbauan resmi untuk mengungsi.
Pihak berwenang, termasuk PVMBG, terus memantau perkembangan aktivitas GAK. Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, serta mematuhi informasi resmi dari BPBD dan pusat vulkanologi. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah aktivitas GAK mereda dalam beberapa hari ke depan, atau justru meningkat seperti yang pernah terjadi sebelumnya? Hanya pemantauan berkelanjutan yang bisa menjawabnya.



