Gasly Rebut Pole Monza, Kejutan di Kandang Tifosi
Baca dalam 60 detik
- Pembalap Alpine, Pierre Gasly, mengamankan posisi terdepan GP Italia dengan keunggulan tipis 0,060 detik atas George Russell.
- Hasil ini mengulang keajaiban Monza 2020 saat Gasly meraih kemenangan pertamanya, sekaligus menandai kebangkitan Alpine di tengah dominasi tim-tim besar.
- Start dari posisi belakang akibat penalti mesin membuat Kimi Antonelli harus bekerja ekstra, menambah dramatis balapan di sirkuit bersejarah Italia.

Pierre Gasly menciptakan kejutan di Sirkuit Monza dengan merebut posisi pole untuk Grand Prix Italia, Minggu (8/9). Pembalap asal Prancis itu mencatatkan waktu tercepat, mengungguli George Russell dari Mercedes hanya dengan selisih tipis 0,060 detik. Momen ini menjadi sorotan karena Monza adalah tempat di mana Gasly meraih satu-satunya kemenangan kariernya di Formula 1 pada 2020 silam, saat itu membela tim junior Red Bull.
Kualifikasi yang berlangsung dinamis ini menempatkan Oscar Piastri dari McLaren di posisi ketiga, diikuti duo Ferrari, Charles Leclerc dan Lewis Hamilton, yang harus puas di urutan keempat dan kelima. Menariknya, performa Ferrari datang meski mereka baru saja memasang upgrade mesin. Sementara itu, Max Verstappen dari Red Bull hanya mampu menempati posisi keenam, dan Lando Norris, rekan setim Piastri, tercecer di urutan kesembilan setelah sesi yang kacau bagi sang juara dunia.
Kabar kurang menggembirakan datang dari pemuncak klasemen sementara, Kimi Antonelli. Pebalap Mercedes itu sebenarnya mencatatkan waktu ketujuh tercepat, tetapi harus rela memulai balapan dari posisi paling belakang. Hukuman turun grid dijatuhkan karena ia menggunakan unit daya baru, sebuah keputusan yang kerap menjadi dilema tim di tengah musim. Kondisi ini jelas mempersulit upayanya mempertahankan keunggulan di papan atas klasemen.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, hasil ini menegaskan bahwa persaingan di papan tengah semakin panas. Keberhasilan Gasly bersama Alpine, tim yang kerap dipandang sebelah mata, menunjukkan bahwa strategi dan konsistensi bisa menyaingi anggaran besar tim papan atas. Ini juga menjadi sinyal positif bagi pebalap Asia Tenggara yang bercita-cita menembus F1, bahwa peluang selalu ada di tengah dominasi nama-nama besar.
Menurut analis balap, performa Gasly di Monza tidak lepas dari karakter sirkuit yang menguntungkan mobil Alpine. "Monza selalu menjadi sirkuit yang unik, di mana downforce rendah dan kecepatan tinggi menjadi kunci. Alpine tampaknya menemukan setelan yang pas," ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kualifikasi bukanlah jaminan kemenangan, mengingat strategi pit stop dan manajemen ban akan memainkan peran krusial dalam balapan nanti.
Di sisi lain, kegagalan Verstappen dan Norris di kualifikasi membuka peluang bagi tim lain untuk memangkas jarak poin. Dengan Antonelli yang start dari belakang, persaingan gelar juara dunia semakin tidak terduga. Pertanyaannya, akankah Gasly mampu mengonversi pole position menjadi kemenangan kedua di Monza, atau justru mimpi buruk menantinya seperti yang kerap terjadi pada pebalap pole di sirkuit ini? Balapan akan menjadi jawabannya.



