Valeo Pindahkan Produksi Motor Drone ke Prancis demi Kedaulatan Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Valeo akan memproduksi motor drone bebas rare earth untuk Harmattan AI di pabrik Prancis mulai 2027.
- Langkah ini mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang rapuh, terutama di sektor pertahanan.
- Kemitraan ini membuka peluang bagi industri pertahanan Indonesia untuk menjajaki kerja sama serupa.

Pemasok otomotif asal Prancis, Valeo, resmi menandatangani kontrak pengembangan dan produksi motor listrik untuk drone dengan perusahaan teknologi pertahanan Harmattan AI. Motor-motor tersebut akan diproduksi di fasilitas Valeo yang berlokasi di Prancis, tanpa menggunakan logam tanah jarang berat, guna memperkuat kemandirian rantai pasok.
Keputusan ini diumumkan pada Senin (20/7) dan langsung menjadi sorotan di industri pertahanan Eropa. Pasalnya, selama ini sebagian besar komponen drone, termasuk motor listrik, bergantung pada pemasok dari Asia Timur. Dengan memproduksi di dalam negeri, Valeo dan Harmattan AI berupaya menekan kerentanan strategis yang kerap muncul akibat gangguan rantai pasok global.
Menurut pernyataan resmi kedua perusahaan, motor yang dikembangkan tidak hanya untuk keperluan militer, tetapi juga aplikasi sipil. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut memiliki potensi pasar yang luas, mulai dari pengawasan infrastruktur hingga logistik. Produksi dijadwalkan dimulai pada awal 2027 di pabrik Valeo yang sudah ada di Prancis.
CEO Valeo, Christophe Pรฉrillat, menyatakan bahwa kerja sama ini memanfaatkan keahlian industri Valeo untuk mendukung kedaulatan nasional. "Kontrak pertama di sektor drone ini menunjukkan bagaimana kapabilitas manufaktur kami dapat berkontribusi pada kemandirian strategis negara," ujarnya. Sementara itu, Harmattan AI menekankan pentingnya menjaga kendali atas kapabilitas produksi di tengah ketidakpastian geopolitik.
Bagi Indonesia, langkah Valeo dan Harmattan AI menjadi contoh nyata bagaimana kemandirian rantai pasok pertahanan dapat dibangun. Saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor komponen drone, termasuk motor listrik. Jika tren nearshoring seperti ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kerja sama serupa dapat dijajaki dengan industri pertahanan dalam negeri, seperti PT Dirgantara Indonesia atau PT Pindad.
Ke depan, keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi negara lain yang ingin mengurangi ketergantungan pada rantai pasok asing. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengambil langkah serupa untuk memperkuat industri pertahanan nasional?



