Banjir dan Longsor di India Utara Tewaskan 25 Orang, Ribuan Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras memicu banjir dan longsor di India utara dan timur laut, menewaskan sedikitnya 25 orang selama akhir pekan.
- Kashmir mencatat korban terbanyak dengan 15 tewas, sementara Nagaland melaporkan 9 korban jiwa akibat longsor.
- Peringatan cuaca ekstrem masih berlaku untuk sepekan ke depan, berpotensi memperparah situasi di India dan Nepal.

Hujan deras yang mengguyur kawasan utara dan timur laut India sejak akhir pekan lalu telah menewaskan sedikitnya 25 orang, sementara puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi. Otoritas setempat memperingatkan bahwa curah hujan tinggi diprediksi masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, meningkatkan risiko bencana susulan.
Di wilayah Kashmir yang dikuasai India, sedikitnya 15 orang tewas dalam sejumlah insiden terpisah di distrik Poonch, Rajouri, dan Doda. Seorang pejabat senior kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa beberapa warga lainnya masih dilaporkan hilang dan proses pencarian terus dilakukan. Sementara itu, di negara bagian Nagaland, sembilan orang ditemukan tewas akibat longsor yang dipicu hujan terus-menerus. Tim penyelamat telah berhasil mengevakuasi empat jenazah, demikian disampaikan seorang pejabat distrik kepada Reuters.
Di Assam, negara bagian tetangga, satu orang dilaporkan meninggal akibat banjir pada Minggu (19/7). Badan penanggulangan bencana setempat mencatat lebih dari 57.000 orang di tujuh distrik terdampak langsung oleh luapan air. Kondisi ini memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Badan Meteorologi India dalam pernyataan resminya di media sosial X menyebutkan bahwa kondisi monsun aktif diperkirakan akan terus berlangsung di wilayah barat laut, timur, dan timur laut India selama enam hingga tujuh hari ke depan. Peringatan ini menjadi sinyal waspada bagi daerah-daerah yang sudah jenuh air, terutama di kawasan perbukitan yang rawan longsor.
Dampak bencana juga meluas ke Nepal, negara tetangga di kawasan Himalaya. Otoritas setempat melaporkan bahwa sejak musim hujan dimulai pada pertengahan Juni, sedikitnya 27 orang tewas akibat banjir, longsor, hujan lebat, dan sambaran petir. Satu orang masih hilang dan 69 lainnya mengalami luka-luka. Jalan utama yang menghubungkan ibu kota Kathmandu dengan dataran selatan terputus akibat timbunan material longsor. Departemen cuaca Nepal memprakirakan hujan ringan hingga lebat di sejumlah provinsi, termasuk Koshi, Bagmati, Gandaki, dan Lumbini.
Bagi Indonesia, musibah ini menjadi pengingat akan tingginya kerentanan kawasan Asia terhadap cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Pola monsun yang semakin tidak menyeragamkan durasi dan intensitasnya berpotensi meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi di tanah air, terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi yang memiliki topografi serupa. Pemerintah Indonesia dinilai perlu memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur mitigasi bencana guna mengantisipasi skenario serupa.
Dengan prakiraan cuaca buruk yang masih membayangi India dan Nepal selama sepekan ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan aparatur dan masyarakat dalam menghadapi potensi gelombang bencana susulan. Upaya evakuasi dan distribusi bantuan logistik menjadi ujian nyata bagi ketangguhan sistem penanggulangan bencana di kawasan Asia Selatan.



