Mantan Petenis Perancis Terbuka Tersandung Kasus Penipuan Rp30 Juta
Baca dalam 60 detik
- Rika Hiraki, mantan juara ganda campuran Perancis Terbuka 1997, ditangkap karena diduga menipu seorang wanita melalui media sosial.
- Modus penipuan melibatkan akun palsu dokter bedah di Perancis yang meminta korban membayar biaya bea cukai untuk barang milik istri yang sudah meninggal.
- Polisi masih menyelidiki kemungkinan korban lain yang mentransfer uang ke rekening Hiraki, menambah kompleksitas kasus ini.

Rika Hiraki, mantan petenis profesional Jepang yang pernah menjuarai nomor ganda campuran Perancis Terbuka pada 1997, harus berurusan dengan aparat hukum. Wanita berusia 54 tahun itu ditangkap polisi Prefektur Kochi atas tuduhan menipu seorang perempuan hingga 300.000 yen (sekitar Rp30 juta) melalui skenario cinta palsu di media sosial. Kasus ini menjadi peringatan bagi publik akan maraknya penipuan berkedok hubungan asmara yang memanfaatkan figur publik.
Menurut keterangan polisi, Hiraki diduga bekerja sama dengan pelaku lain yang belum tertangkap. Modusnya, seorang pria berpura-pura menjadi dokter bedah ortopedi yang bekerja di Perancis dan baru ditinggal mati istrinya. Pelaku lalu meyakinkan korban—seorang wanita asal Kagoshima yang saat itu berusia 50-an—untuk membayar biaya sertifikat bea cukai agar barang milik almarhumah istri bisa dikirim ke Jepang. Korban mentransfer uang pada 30 Mei 2022 ke rekening atas nama Hiraki.
Polisi mengantongi bukti kuat berupa rekaman kamera pengawas ATM yang memperlihatkan Hiraki menarik uang tunai dari rekening tersebut pada hari yang sama. Hiraki, yang kini bekerja sebagai pegawai perusahaan di Prefektur Chiba, membantah semua tuduhan. Ia mengaku tidak tahu menahu soal skema penipuan ini. Namun, penyidik masih mendalami laporan dari pihak lain yang mengaku mengalami kerugian serupa setelah mentransfer uang ke rekening yang sama.
Kasus ini menyoroti kerentanan masyarakat terhadap penipuan daring yang kian canggih. Di Indonesia, modus serupa—dikenal sebagai romance scam—juga marak terjadi. Pelaku biasanya membangun hubungan emosional dengan korban sebelum akhirnya meminta uang dengan berbagai alasan, seperti biaya pengiriman barang, pengobatan, atau investasi palsu. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat ribuan laporan penipuan daring setiap tahunnya, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah.
Menurut pengamat keamanan siber, kasus Hiraki menunjukkan bahwa penipu tidak segan melibatkan nama orang terkenal untuk melegitimasi aksinya. “Masyarakat harus lebih waspada terhadap permintaan transfer uang dari orang yang tidak dikenal, apalagi jika melibatkan tokoh publik,” ujar seorang analis. Polisi Jepang pun mengimbau agar korban penipuan segera melapor dan tidak malu karena kasus serupa bisa menimpa siapa saja.
Ke depan, kasus ini berpotensi membuka tabir jaringan penipuan yang lebih luas. Polisi masih memburu pelaku lain yang disebut-sebut sebagai otak di balik skenario dokter bedah tersebut. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana keterlibatan Hiraki—apakah ia korban penyalahgunaan identitas atau justru bagian dari sindikat? Proses hukum akan menjawabnya.



