Malaysia Gelar Operasi TMC 3 Hari: Menekan Asap Karhutla dan Mengisi Cadangan Air di Sarawak
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia mengerahkan pesawat C-130 untuk menyemai garam ke awan di Sarawak selama tiga hari, menargetkan tiga bendungan hidroelektrik dan 13 daerah tangkapan air.
- Operasi ini merupakan respons ganda terhadap krisis kabut asap dari kebakaran hutan Kalimantan yang telah mendorong Indeks Pencemaran Udara (IPU) hingga 475 di Serian, level yang sangat berbahaya.
- Langkah ini juga menjadi antisipasi menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem pada Oktober, sekaligus upaya memulihkan pasokan air bersih bagi lebih dari 225.000 warga yang telah bergantung pada bantuan air minum sejak awal tahun.

Pemerintah Malaysia resmi mengaktifkan operasi penaburan garam (cloud seeding) selama tiga hari mulai Kamis (3/9) untuk mengurai kabut asap beracun yang menyelimuti Sarawak, sekaligus mengamankan cadangan air di tengah ancaman musim kering yang lebih panjang. Langkah ini diambil setelah kualitas udara di tujuh wilayah negara bagian di Pulau Kalimantan itu menembus ambang bahaya, dengan angka Indeks Pencemaran Udara (IPU) di atas 300, bahkan di Serian mencapai 475—hampir menyentuh level yang dapat memicu status darurat lokal.
Operasi yang melibatkan Angkatan Udara Kerajaan Malaysia, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (NADMA), dan Departemen Meteorologi Malaysia ini tidak hanya menyasar tiga bendungan hidroelektrik dan 13 daerah tangkapan air, tetapi juga menjadi uji efektivitas teknologi modifikasi cuaca dalam menghadapi polusi lintas batas. Ketua Komite Penanggulangan Bencana Sarawak, Douglas Uggah Embas, menjelaskan bahwa pesawat C-130 telah disiapkan untuk melepaskan larutan garam ke awan pada ketinggian 5.000 hingga 7.000 kaki. Namun ia menggarisbawahi bahwa metode ini sangat bergantung pada kondisi atmosfer—tanpa formasi awan yang memadai, hujan buatan tidak akan terjadi.
Krisis ini berakar pada kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Indonesia, yang selama berhari-hari mengirim asap tebal ke wilayah Sarawak. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan—dengan meningkatnya kasus gangguan pernapasan—tetapi juga pada infrastruktur air. Sejak Januari, kekeringan berkepanjangan telah memaksa otoritas kesejahteraan negara membagikan lebih dari 450.000 kotak air minum kepada 225.000 penduduk. Operasi penaburan garam ini, menurut Uggah, adalah upaya ganda: mengurangi polutan di udara sekaligus mengisi kembali waduk sebelum Oktober yang diprediksi lebih panas dan kering. "Kami ingin menaikkan level air sebanyak mungkin selagi masih bisa," ujarnya di pangkalan udara Kuching.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat getir akan kerentanan bersama di kawasan. Kabut asap lintas batas yang rutin terjadi setiap musim kemarau tidak hanya merugikan Malaysia, tetapi juga mencoreng citra Indonesia di mata internasional. Langkah Malaysia yang memilih teknologi modifikasi cuaca menunjukkan bahwa negara tetangga tidak lagi sekadar pasif menerima dampak, melainkan mengambil tindakan nyata. Di sisi lain, pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya telah memiliki teknologi serupa, tetapi efektivitasnya sering terkendala oleh luasnya titik api dan keterbatasan anggaran. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang memperparah kekeringan di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Para ahli lingkungan menilai bahwa solusi jangka pendek seperti cloud seeding hanyalah plester luka. Akar masalahnya adalah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih marak di Indonesia, terutama untuk perkebunan kelapa sawit dan pulp. Meskipun pemerintah Indonesia telah mengeluarkan larangan dan sanksi, penegakan hukum di lapangan masih lemah. Sementara itu, kerja sama regional melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution belum berjalan optimal karena Indonesia belum meratifikasi perjanjian tersebut. Ketergantungan pada teknologi hujan buatan juga berisiko menimbulkan dampak ekologis yang belum sepenuhnya dipahami, seperti perubahan pola curah hujan alami.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah operasi tiga hari ini akan berhasil menurunkan IPU dan mengisi bendungan, tetapi juga apakah negara-negara ASEAN dapat mengubah pendekatan dari reaktif menjadi preventif. Jika musim kemarau ekstrem semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, maka konflik asap lintas batas diprediksi akan berulang dengan intensitas lebih tinggi. Bagi warga Sarawak, harapan tertuju pada awan yang segera mengguyur hujan; bagi Indonesia, tekanan diplomatik dari Kuala Lumpur bisa menjadi momentum untuk memperkuat komitmen domestik dalam memberantas karhutla. Namun, tanpa perubahan fundamental dalam tata kelola lahan, operasi penaburan garam hanyalah jeda singkat dari bencana yang terus mengintai.



