Kumbang Jepang Ancam Kebun Anggur Italia, Petani Cemas Produksi Anjlok
Baca dalam 60 detik
- Popillia japonica, hama asal Jepang, telah menyebar ke Italia utara dan merusak tanaman anggur serta buah-buahan sejak 2014.
- Tanpa predator alami, kumbang ini memakan lebih dari 300 jenis tanaman dan masuk daftar hama prioritas Uni Eropa.
- Petani di Donnas mengandalkan pestisida dan perangkap feromon, namun efektivitasnya terbatas di medan terjal.

Kumbang hijau metalik asal Jepang, Popillia japonica, kini menjadi momok baru bagi para petani di Italia utara. Hama yang telah lama dikenal di Amerika Serikat ini pertama kali terdeteksi di dekat Bandara Malpensa, Milan, pada 2014, dan sejak itu menyebar ke Lombardy, Piedmont, serta Valle d'Aosta. Tahun lalu, kumbang ini mencapai kebun anggur bertingkat di atas kota Donnas, mengancam produksi anggur Nebbiolo yang legendaris.
Luciano Zoppo Ronzero, seorang pembuat anggur di Donnas, mengungkapkan kekhawatirannya saat melihat kumbang itu bergerak dari satu teras ke teras lainnya. "Kami sekarang berada di teras ke-10 dan sudah melihat serangan popillia. Ini berarti mereka terus mengonsumsi dan naik ke atas gunung," ujarnya. Tanaman anggur yang terserang mengalami defoliasi, sehingga buah anggur terpapar sinar matahari berlebihan dan proses fotosintesis terganggu. Akibatnya, buah tidak matang sempurna dan menjadi tidak layak panen.
Kumbang Jepang tidak memiliki predator alami di Eropa dan mampu memakan lebih dari 300 jenis tanaman, termasuk pohon buah, rumput, dan tanaman hias. Karena itu, Uni Eropa menempatkannya dalam daftar hama prioritas yang wajib dikendalikan. Saat ini, populasi kumbang sudah mapan di Italia, Swiss, dan Jerman, sehingga upaya difokuskan pada pengelolaan dan pencegahan perluasan. Sementara itu, Prancis dan Spanyol masih memiliki peluang untuk memberantasnya sepenuhnya, menurut Daniela Lupi, ahli entomologi dari Universitas Milan.
Coldiretti, lobi pertanian Italia, menyebut hama ini sebagai ancaman serius bagi Lembah Po, lumbung pangan Italia. Namun, kerugian ekonomi sulit dihitung karena kumbang sering kali hanya melemahkan tanaman tanpa mematikannya. Lorenzo Bazzana, kepala urusan ekonomi Coldiretti, mengatakan bahwa di beberapa area, kumbang telah menghancurkan panen. Larva kumbang juga merusak akar rumput, mengancam lapangan golf dan lahan bermain.
Upaya pengendalian saat ini mengandalkan perangkap feromon dan pestisida, meskipun efektivitasnya terbatas dan membutuhkan tenaga kerja besar di medan terjal. Harapan terbaik adalah menyerang larva dengan memperkenalkan parasit mikroskopis di area yang terinfestasi, seperti yang sedang diuji di dekat Bandara Verona. "Jika tidak dilawan, populasi akan terus meningkat dan kerusakan pada tanaman buah, rumput, dan tanaman hias akan semakin parah," kata Lupi. Meski tidak berbahaya bagi manusia, hama ini secara drastis menurunkan hasil pertanian.
Bagi Indonesia, ancaman serupa bisa muncul mengingat lalu lintas barang dan orang yang tinggi. Pengawasan ketat di pelabuhan dan bandara terhadap hama asing seperti kumbang Jepang menjadi krusial untuk melindungi sektor pertanian nasional. Pertanyaannya, apakah otoritas karantina Indonesia sudah siap menghadapi potensi masuknya hama eksotis yang dapat mengancam komoditas unggulan seperti kopi, kakao, atau buah-buahan?



