Matt Damon di Usia 55: Waktu Jadi Komoditas Paling Berharga, Hidup Lebih Intensional
Baca dalam 60 detik
- Aktor Matt Damon mengaku perspektif hidupnya berubah drastis setelah melewati usia 50 tahun, dengan waktu menjadi prioritas utama.
- Damon kini memfokuskan energi pada tiga hal: keluarga, karier film berkualitas, dan yayasan air bersih Water.org.
- Menjelang masa 'sarang kosong', Damon dan istrinya berusaha memanfaatkan setiap momen bersama anak-anak yang masih di rumah.

Matt Damon, aktor pemenang Oscar yang kini berusia 55 tahun, mengungkapkan bahwa memasuki dekade kelima kehidupannya telah mengubah secara fundamental cara pandangnya terhadap waktu dan prioritas. Dalam wawancara terbaru dengan majalah PEOPLE, bintang film The Odyssey itu menegaskan bahwa waktu kini menjadi komoditas paling berharga yang ia miliki — sebuah kesadaran yang mendorongnya untuk lebih selektif dalam setiap keputusan.
“Begitu Anda melewati usia 50, setidaknya bagi saya, saya benar-benar mulai merasakan bahwa waktu adalah komoditas paling berharga yang ada,” ujar Damon. “Saya hanya ingin menjadi intensional dengan apa yang saya lakukan dan memastikan bahwa saya menghabiskannya persis di tempat yang saya inginkan.” Pernyataan ini mencerminkan pergeseran dari sikap ambisius khas aktor muda menuju pendekatan yang lebih reflektif dan terukur.
Damon mengaku kini hanya memiliki tiga prioritas utama dalam hidup: keluarga, pekerjaan, dan Water.org — organisasi nirlaba yang ia dirikan untuk menyediakan akses air bersih dan sanitasi bagi masyarakat miskin. Ketiga pilar ini menjadi filter bagi setiap tawaran proyek dan aktivitas yang ia jalani. “Saya merasa sudah sedikit tenang dan tidak lagi mengejar sesuatu. Saya hanya ingin melakukan pekerjaan yang benar-benar saya yakini dan dengan cara saya sendiri,” tambahnya.
Kesadaran akan waktu yang terbatas juga memengaruhi cara Damon menjalani perannya sebagai ayah. Dua putri sulungnya, Alexia dan Isabella, sudah meninggalkan rumah. Kini ia dan istrinya, Luciana Barroso, berusaha menikmati setiap momen bersama Gia dan Stella yang masih tinggal di rumah. “Memiliki dua anak yang lebih besar yang sudah keluar dari sarang dan mengetahui seberapa cepat tahun-tahun terakhir ini berlalu, kami mencoba untuk sadar dan memegang erat apa yang bisa kami pertahankan,” kata Damon.
Dalam konteks industri hiburan Indonesia, pergeseran prioritas seperti yang dialami Damon bisa menjadi refleksi bagi para aktor dan sineas Tanah Air yang kerap terjebak dalam tekanan produktivitas tanpa henti. Banyak figur publik Indonesia yang mulai berbicara tentang keseimbangan hidup dan kesehatan mental, namun jarang yang secara eksplisit mengubah model bisnis karier mereka seperti yang dilakukan Damon. Pendekatan “less is more” ini bisa menjadi alternatif bagi industri yang seringkali mengukur kesuksesan dari kuantitas proyek, bukan kualitas dampak.
Damon juga mengembangkan pemahaman baru tentang kendali. “Saya hanya mencoba memikirkan apa yang bisa saya kendalikan dan apa yang tidak. Daripada memberontak terhadap takdir tentang hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tragedi bisa menghampiri siapa pun, dan penerimaan adalah kunci. “Hidup cukup lama dan hal-hal terjadi, tragedi datang mengunjungi Anda tidak peduli siapa Anda. Dan Anda harus menerima apa yang terjadi.”
Pelajaran tentang penerimaan ini, menurut Damon, sudah ia pelajari sejak awal karier sebagai aktor — sebuah profesi dengan tingkat persaingan dan ketidakpastian yang sangat tinggi. Kini, di usia 55 tahun, ia tidak lagi melawan arus, melainkan berenang dengan lebih sadar. Pertanyaan besarnya: akankah pendekatan ini menginspirasi lebih banyak figur publik untuk berani mendefinisikan ulang kesuksesan menurut versi mereka sendiri?



