Lizzo: Musik Menyelamatkan Hidup Saya di Tengah Depresi dan Kesibukan Proyek Baru
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Lizzo bersiap merilis buku anak dan film baru, sembari mengaku musik menjadi penopang saat depresi.
- Lizzo menjadi sampul digital Sports Illustrated, menandai perubahan standar kecantikan di industri.
- Kisah Lizzo menginspirasi tentang pentingnya seni sebagai terapi kesehatan mental, relevan bagi publik Indonesia.

Penyanyi Lizzo, yang dikenal lewat lagu Truth Hurts, kembali menjadi sorotan bukan hanya karena proyek kreatifnya yang beragam, tetapi juga pengakuannya bahwa musik menjadi penyelamat saat ia berjuang melawan depresi. Di usia 38 tahun, ia tengah mempromosikan album baru, bersiap menerbitkan buku anak-anak pada September, dan akan memerankan Sister Rosetta Tharpe dalam film Rosetta.
Dalam wawancara dengan Sports Illustrated, Lizzo mengibaratkan kariernya seperti taman yang perlu dirawat. โSaya sudah menyiram benih, dan benih itu sudah di taman. Pada titik ini, saya tidak akan duduk menunggu bunga mekar. Hal terbaik dari taman adalah kembali dan melihat bagaimana bunga-bunga itu bermekaran,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia menikmati setiap proses, menyiram setiap tanaman dan membiarkannya tumbuh.
Lizzo juga menjadi bintang sampul digital Sports Illustrated edisi terbaru. Baginya, pencapaian ini adalah bukti perubahan standar kecantikan. โSaat kecil, saya melihat majalah itu dan tidak pernah membayangkan seseorang dengan tipe tubuh saya bisa ada di sampul. Sungguh luar biasa melihat bagaimana kita telah mendefinisikan ulang seksi, percaya diri, dan apa itu tubuh bikini,โ katanya. Ia memuji peragaan busana yang menampilkan berbagai bentuk tubuh, termasuk ibu hamil, sebagai sesuatu yang indah dan fabulosa.
Di balik kesibukan tersebut, Lizzo mengungkap sisi rentannya. Dalam wawancara dengan Rolling Stone, ia menceritakan bahwa musik membantunya melewati masa-masa tergelap. โHubungan saya dengan musik masih sangat intens. Saya masih berkata, โMusik menyelamatkan hidup saya,โ karena ada momen-momen gelap saat mengerjakan album Love in Real Life, di mana saya merasa tidak bisa melewati hari, tetapi saya harus pergi ke studio,โ tuturnya.
Kisah Lizzo menjadi pengingat bahwa tekanan mental bisa dialami siapa pun, termasuk figur publik yang tampak sukses. Di Indonesia, isu kesehatan mental semakin mendapat perhatian, terutama di kalangan anak muda yang kerap menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi tinggi. Banyak yang mulai mencari pelarian melalui seni, seperti musik atau menulis, sebagaimana dilakukan Lizzo.
Lizzo membuktikan bahwa produktivitas dan kreativitas bisa berjalan beriringan dengan perjuangan pribadi. Pertanyaan besarnya, akankah keterbukaan seperti ini mendorong lebih banyak figur publik di Indonesia untuk berbicara tentang kesehatan mental tanpa stigma?



