Monsoon Tewaskan 19 Orang di India, Dua Ziarah Dihentikan
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan monsun menewaskan sedikitnya 19 orang di Nagaland dan Jammu-Kashmir pada Minggu (19/7).
- Pemerintah setempat menghentikan sementara ziarah Amarnath dan Vaishno Devi demi keselamatan jamaah, menyusul peringatan cuaca ekstrem.
- Bencana musiman ini kembali menyoroti kerentanan infrastruktur India terhadap curah hujan tinggi, dengan dampak meluas pada aktivitas keagamaan dan ekonomi.

Hujan monsun yang mengguyur India sejak akhir pekan lalu memicu banjir bandang dan tanah longsor di dua wilayah terpisah, menewaskan sedikitnya 19 orang dan memaksa pemerintah menghentikan sementara dua ziarah Hindu besar. Peristiwa ini kembali mengingatkan pada kerapuhan infrastruktur Asia Selatan dalam menghadapi cuaca ekstrem yang kian tidak menentu.
Di negara bagian Nagaland, timur laut India yang berbatasan dengan Myanmar, delapan orang ditemukan tewas setelah tanah longsor menerjang permukiman di Distrik Mon. Wennyei Konyak, pejabat distrik setempat, mengonfirmasi bahwa empat jenazah telah berhasil dievakuasi, sementara 15 warga lainnya mengalami luka-luka. Operasi pencarian masih berlangsung hingga Senin pagi.
Sementara itu, di wilayah Jammu dan Kashmir yang berada di bawah administrasi India, banjir bandang di Distrik Rajouri merenggut 11 jiwa. Kepala Menteri Omar Abdullah menyatakan duka mendalam melalui pernyataan resmi, menyebut bencana itu telah menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas umum, termasuk terminal bus, dan mengacaukan kehidupan ribuan warga. Personel Angkatan Darat dan tim penyelamat negara bagian berhasil mengevakuasi 11 orang, di antaranya lima anak-anak.
Badan Meteorologi India mengeluarkan peringatan dini akan potensi hujan "sangat lebat" di Jammu dan Kashmir dalam dua hari ke depan. Kekhawatiran akan keselamatan jamaah mendorong pemerintah setempat menangguhkan sementara ziarah tahunan ke Gua Amarnath, salah satu situs suci Hindu yang dikunjungi lebih dari 400.000 orang pada musim lalu. Peziarah baru diizinkan melanjutkan perjalanan setelah cuaca membaik dan jalur dinyatakan aman. Ziarah ke Kuil Vaishno Devi di Jammu, yang menarik jutaan peziarah setiap tahun, juga dihentikan untuk sementara.
Banjir dan tanah longsor selama musim monsun memang menjadi siklus tahunan di India. Namun, intensitas dan dampaknya kerap kali melampaui kapasitas respons darurat, terutama di daerah pegunungan seperti Nagaland dan Kashmir. Bagi Indonesia, pola bencana serupa juga terjadi di sejumlah wilayah rawan longsor, seperti Jawa Barat dan Sumatera Barat, saat musim hujan tiba. Pelajaran dari India tentang perlunya sistem peringatan dini yang lebih akurat dan evakuasi terencana menjadi relevan untuk diadopsi.
Ke depan, perubahan iklim diprediksi akan meningkatkan frekuensi dan kekuatan hujan ekstrem di kawasan Himalaya. Pertanyaan yang mengemuka bukan hanya soal kesiapan infrastruktur, tetapi juga bagaimana pemerintah Indiaโdan negara tetangga seperti Indonesiaโdapat mengintegrasikan mitigasi bencana ke dalam tata ruang dan rencana pembangunan jangka panjang. Tanpa itu, musim hujan akan terus meninggalkan duka dan kerugian materi yang berulang.



