El Nino Ancam Great Barrier Reef: Risiko Keruntuhan Ekosistem Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Nino ekstrem tahun ini diprediksi memicu pemutihan massal dan keruntuhan ekosistem di Great Barrier Reef.
- Terumbu karang terbesar dunia itu baru saja lolos dari status 'bahaya' UNESCO, meskipun laju degradasi terus meningkat.
- Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa aksi iklim yang lebih agresif, kerusakan terumbu karang global bisa berujung pada dampak serius bagi kehidupan manusia.

Ancaman terhadap Great Barrier Reef semakin nyata setelah para ilmuwan memperingatkan bahwa fenomena El Nino tahun ini berpotensi memicu pemutihan massal dan keruntuhan ekosistem secara luas. Peringatan ini disampaikan dalam Simposium Terumbu Karang Internasional di Auckland, Selasa (21/7), menambah kekhawatiran global terhadap masa depan salah satu keajaiban alam dunia.
Morgan Pratchett, ahli ekologi konservasi laut dari James Cook University, Queensland, mengungkapkan bahwa El Nino yang ekstrem tahun ini menjadi ancaman serius. "Bukan tidak mungkin gangguan besar berikutnya akan menyebabkan kepunahan spesies lokal dan keruntuhan ekosistem yang meluas," ujarnya. Pratchett menambahkan bahwa kemungkinan besar akan terjadi pemutihan massal dengan tingkat keparahan tinggi di Great Barrier Reef.
Great Barrier Reef, yang membentang sepanjang 2.300 kilometer di lepas pantai Queensland, merupakan struktur hidup terbesar di dunia dan menjadi daya tarik wisata utama Australia. Meskipun pada Juli lalu berhasil menghindari status 'terancam bahaya' dari UNESCO, laporan PBB sebelumnya telah menyatakan "keprihatinan yang sangat besar" terhadap pemutihan karang massal dan dampak perubahan iklim.
El Nino tahun ini diperkirakan akan memecahkan rekor kekuatan totalnya karena memanaskan suhu permukaan di Samudra Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur. Fenomena ini membawa perubahan pola angin, tekanan, dan curah hujan di seluruh dunia, yang secara langsung mempengaruhi suhu perairan di sekitar Great Barrier Reef. Selain perubahan iklim, faktor lain seperti cuaca ekstrem, limpasan dari daratan, pembangunan pesisir, dan predasi oleh bintang laut mahkota duri juga turut menekan ekosistem karang.
Profesor Ove Hoegh-Guldberg dari University of Queensland menegaskan bahwa kurangnya tindakan pemerintah telah mengancam masa depan terumbu karang di seluruh dunia. Dengan nada metaforis, ia membandingkan situasi ini dengan kapal Titanic yang mulai tenggelam. "Jika Anda berada di kapal besar seperti Titanic, dan seseorang datang dan mengatakan kapal akan tenggelam, Anda pasti akan naik ke sekoci dan mulai bertindak. Kami tidak melakukan itu. Kapal mulai tenggelam dengan cara yang sangat masif, dan kami tidak melihatnya sebagaimana adanya," katanya.
Bagi Indonesia, sebagai negara yang memiliki terumbu karang terluas di dunia, peringatan ini menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan. Ekosistem terumbu karang di Indonesia juga menghadapi ancaman serupa akibat pemanasan suhu laut dan aktivitas manusia. Jika Great Barrier Reef runtuh, dampaknya tidak hanya dirasakan Australia, tetapi juga menjadi peringatan bagi negara-negara tropis lainnya, termasuk Indonesia, untuk segera memperkuat upaya konservasi dan mitigasi perubahan iklim.
Ke depan, pertanyaan mendesak yang harus dijawab adalah: apakah respons global terhadap perubahan iklim cukup cepat dan masif untuk menyelamatkan terumbu karang? Ataukah kita sedang menyaksikan awal dari keruntuhan ekosistem yang akan mengubah wajah bumi selamanya?



