Begal Motor di Tangerang Berujung Maut: Pelaku Tewas Diamuk Massa, Satu Buron
Baca dalam 60 detik
- Dua siswi SMP di Legok, Tangerang, menjadi korban pembegalan saat pulang sekolah; satu pelaku tewas dihakimi warga.
- Pelaku lain kabur membawa sepeda motor korban, sementara korban mengalami luka-luka akibat terseret aspal.
- Polsek Legok masih memburu pelaku kedua dan mengimbau warga tidak main hakim sendiri.

Pulang sekolah yang seharusnya menjadi rutinitas biasa berubah menjadi tragedi bagi dua siswi SMP di Desa Babat, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten. Rabu (22/7) siang, keduanya menjadi korban begal yang dilakukan dua pria di jalan sepi. Peristiwa ini berakhir dengan tewasnya satu pelaku setelah diamuk massa, sementara rekannya kabur membawa motor korban.
Menurut keterangan korban, Liawati, saat melintas dengan sepeda motor, kedua pelaku sudah menunggu di pinggir jalan. Tanpa basa-basi, salah satu pelaku menarik korban hingga terjatuh dan terseret di jalan beton. Ketika korban berusaha bangkit, pelaku langsung merampas sepeda motor. Korban sempat mempertahankan kunci, tetapi gagal. "Kami ditarik sampai jatuh. Setelah bangun, motor langsung diambil. Kami sempat rebutan kunci, tapi akhirnya diambil dan pelaku kabur. Pelakunya ada dua orang," ujar Liawati.
Warga yang mengetahui kejadian itu langsung melakukan pengejaran. Satu pelaku berhasil ditangkap dan menjadi sasaran amuk massa hingga tewas di tempat. Sementara rekannya melarikan diri dengan membawa motor hasil rampasan. Kedua siswi mengalami luka-luka akibat terjatuh dan membentur aspal. Jenazah terduga pelaku dievakuasi ke RSUD Kabupaten Tangerang untuk identifikasi.
Kasus ini kembali menyoroti praktik main hakim sendiri yang kerap terjadi di Indonesia. Meski aksi warga dapat dipahami sebagai bentuk frustrasi terhadap maraknya kejahatan jalanan, tindakan tersebut tetap melanggar hukum. Kapolsek Legok mengimbau masyarakat untuk tidak bertindak di luar prosedur dan menyerahkan pelaku kepada aparat. Hingga kini, Unit Reskrim Polsek Legok masih melakukan penyelidikan dan memburu satu pelaku lain yang melarikan diri beserta sepeda motor milik korban.
Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan di jalan, terutama bagi pelajar yang pulang sendirian. Orang tua diimbau untuk menjemput anak atau memastikan mereka pulang dalam kelompok. Di sisi lain, polisi terus menggencarkan patroli di titik-titik rawan begal. Pertanyaannya, akankah penegakan hukum yang tegas mampu mencegah aksi main hakim sendiri di masa depan?



