Format Piala Dunia Cricket Diubah Sepihak, Asosiasi Pemain Protes Keras
Baca dalam 60 detik
- World Cricketers' Association (WCA) mengecam perubahan format Piala Dunia 2027 yang dianggap merugikan negara-negara asosiasi tanpa konsultasi pemain.
- ICC memperkenalkan babak 'Super Series' untuk tiga tim peringkat terendah, yang dinilai justru membatasi kesempatan mereka berlaga di panggung utama.
- Para kapten tim asosiasi, seperti Belanda dan Irlandia, menyuarakan kekecewaan karena perubahan ini bertentangan dengan komitmen globalisasi kriket.

Asosiasi pemain kriket dunia, World Cricketers' Association (WCA), melontarkan kritik tajam terhadap keputusan International Cricket Council (ICC) yang mengubah format Piala Dunia ODI 2027 tanpa melibatkan para atlet. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat (17/7), WCA menyebut perubahan ini mengkhianati semangat perluasan olahraga kriket ke negara-negara non-tradisional.
Turnamen 50-over yang akan digelar di Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Namibia itu tetap mempertahankan 14 peserta. Namun, ICC memperkenalkan babak "Super Series" bagi tiga tim dengan peringkat terendah di antara yang lolos kualifikasi. Hanya satu dari tiga tim tersebut yang berhak melaju ke fase grup utamaโsebuah mekanisme yang menurut ICC dirancang untuk menciptakan "pertandingan yang lebih bermakna."
Keputusan ini langsung menuai reaksi keras. Tom Moffat, CEO WCA, menegaskan bahwa meskipun ICC berhak menentukan struktur turnamen, perubahan signifikan seperti ini seharusnya melalui konsultasi yang transparan. "Sulit untuk menyelaraskan ambisi globalisasi kriket dengan keputusan yang justru mengurangi kesempatan bagi negara-negara yang paling diuntungkan dari perluasan sejati," ujar Moffat.
Para pemain dari negara-negara asosiasi menjadi pihak yang paling dirugikan. Kapten Belanda, Scott Edwards, mengungkapkan kekecewaannya. "Lolos ke Piala Dunia ODI adalah pencapaian besar bagi negara kami. Ketika peluang itu berubah setelah bertahun-tahun perencanaan, rasanya sangat mengecewakan," katanya. Edwards juga menyoroti inkonsistensi ICC yang kerap berbicara tentang pengembangan global, tetapi mengambil langkah kontradiktif.
Senada dengan Edwards, kapten Irlandia Paul Stirling membandingkan dengan Piala Dunia sepak bola yang baru saja berlangsung. "Negara-negara kecil dan asosiasi telah konsisten membuktikan nilai tambah mereka di ajang global. Sepak bola menunjukkan bagaimana memberi kesempatan kepada tim non-unggulan justru meningkatkan daya tarik turnamen," ujarnya. Stirling berharap kriket bisa mengadopsi pendekatan serupa.
Bagi Indonesia, meskipun belum menjadi peserta Piala Dunia, perubahan format ini memberikan pelajaran penting. Federasi Cricket Indonesia (FCI) tengah giat mengembangkan olahraga ini di tanah air, dengan target lolos kualifikasi Piala Dunia dalam satu dekade ke depan. Jika ICC terus mempersempit akses bagi negara berkembang, ambisi Indonesia untuk tampil di panggung dunia bisa terhambat. Selain itu, minimnya transparansi dalam pengambilan keputusan ICC juga menjadi perhatian bagi negara-negara yang baru bergabung.
Pertanyaan besarnya kini: apakah ICC akan mempertimbangkan kembali keputusan ini di tengah gelombang protes? Atau justru akan ada lebih banyak negara asosiasi yang kehilangan motivasi untuk berinvestasi dalam pengembangan kriket? WCA telah menyerukan dialog terbuka, dan tekanan dari para pemain serta publik mungkin menjadi kunci untuk mengubah arah kebijakan yang dinilai kontroversial ini.



