Andy Flower Menepis Peluang Jadi Pelatih Tes Inggris: Fokus pada Komitmen Klub
Baca dalam 60 detik
- Andy Flower secara resmi mengundurkan diri dari bursa calon pelatih kepala tim Tes Inggris, menyusul pemecatan Brendon McCullum.
- Pelatih asal Zimbabwe itu memilih bertahan di Royal Challengers Bengaluru dan London Spirit karena tidak bisa merangkap peran dengan jadwal IPL yang berbenturan.
- ECB kini harus mempercepat pencarian pengganti, dengan opsi pelatih interim untuk seri melawan Pakistan pada Agustus mendatang.

Andy Flower memastikan dirinya tidak akan kembali menangani tim nasional Inggris setelah mengundurkan diri dari persaingan kursi pelatih kepala skuad Tes. Keputusan ini diumumkan di tengah upaya England and Wales Cricket Board (ECB) mencari pengganti Brendon McCullum yang dipecat awal bulan ini.
Flower, yang pernah membawa Inggris meraih kemenangan Ashes di Australia pada 2010-11, mengaku telah berdialog dengan ECB namun memilih bertahan di posisinya saat ini. Ia saat ini menukangi Royal Challengers Bengaluru (RCB) di IPL dan London Spirit di The Hundred. "Saya sangat nyaman dengan pekerjaan saya sekarang," ujarnya dalam sesi media London Spirit, Jumat (11/7).
Keputusan Flower menutup peluang besar bagi ECB yang tengah membutuhkan figur berpengalaman. McCullum dipecat setelah serangkaian hasil buruk dan insiden kontroversial di luar lapangan, meski ia tetap memegang kendali tim putih Inggris. ECB kini berada dalam tekanan waktu karena harus memiliki pelatih tetap sebelum seri melawan Pakistan pada Agustus.
Bagi Flower, alasan utamanya menolak tawaran adalah benturan jadwal. "Secara pribadi, saya rasa tidak mungkin menjalankan kedua peran, terutama karena IPL berlangsung di awal musim panas Inggris," jelasnya. Ia menambahkan bahwa sebagai pelatih Tes, dirinya harus hadir langsung memantau pemain, sesuatu yang tidak bisa dilakukan jika tetap menangani RCB.
Nama-nama lain yang dikaitkan dengan posisi ini antara lain Jonathan Trott, Richard Dawson, Stephen Fleming, dan Tom Moody. Namun, ECB belum mengumumkan kandidat resmi. Langkah Flower ini sekaligus mengingatkan kembali pada era kejayaan Inggris di bawah asuhannya, sebelum akhirnya hengkang setelah kekalahan 5-0 di Australia pada 2013-14.
Keputusan Flower menjadi sinyal bahwa komitmen terhadap franchise cricket kini semakin dominan di kalangan pelatih top dunia. Bagi Indonesia, meski tidak terlibat langsung, perkembangan ini menarik dicermati karena menunjukkan bagaimana jadwal padat turnamen global seperti IPL dan The Hundred mulai memengaruhi ketersediaan sumber daya pelatih untuk tim nasional. ECB pun harus berpikir kreatifโmampukah mereka menemukan sosok yang bisa menandingi rekam jejak Flower dalam waktu singkat?



