FIFA Selidiki Aksi Pemain Argentina: Bendera Falkland Picu Ketegangan Diplomatik
Baca dalam 60 detik
- FIFA tengah meninjau laporan pertandingan setelah pemain Argentina mengibarkan spanduk bertuliskan 'Las Malvinas son Argentinas' usai mengalahkan Inggris di semifinal Piala Dunia.
- Aksi ini memicu reaksi keras dari Inggris, dengan Perdana Menteri menegaskan kedaulatan atas Kepulauan Falkland, sementara Presiden Argentina menyebutnya 'dapat dimengerti'.
- Kasus serupa pernah berujung sanksi, termasuk denda untuk Argentina pada 2014 dan larangan bermain bagi pemain Korea Selatan pada 2012, sehingga FIFA berpotensi menjatuhkan hukuman.

FIFA tengah mengkaji laporan pertandingan untuk menentukan sanksi terhadap tim nasional Argentina setelah para pemainnya mengibarkan spanduk yang mendukung klaim kedaulatan atas Kepulauan Falkland, usai menyingkirkan Inggris di semifinal Piala Dunia. Aksi yang terjadi di Atlanta, Amerika Serikat, itu langsung memicu ketegangan diplomatik antara London dan Buenos Aires.
Dalam pertandingan yang berlangsung dramatis, Argentina membalikkan keadaan dengan dua gol di menit akhir untuk mengalahkan Inggris 2-1 dan memastikan tiket ke final melawan Spanyol. Namun, euforia kemenangan itu ternoda setelah sejumlah pemain mengangkat spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" โ yang berarti "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina". Spanduk serupa pernah digunakan Argentina pada laga persahabatan melawan Slovenia pada 2014, yang berujung denda 20.000 poundsterling dari FIFA.
Kantor Perdana Menteri Inggris langsung merespons dengan pernyataan tegas. Juru bicara PM menyatakan, "Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami. Komitmen kami terhadap Falklands tidak akan pernah goyah." Sementara itu, Presiden Argentina Javier Milei menyebut tindakan para pemainnya "dapat dimengerti" dan "valid", meskipun ia menekankan bahwa "hal-hal yang terjadi di lapangan bukan bagian dari diplomasi".
Ketegangan ini mengingatkan kembali pada perang 1982 antara Argentina dan Inggris memperebutkan Kepulauan Falkland, yang berlangsung selama 74 hari dan menewaskan 649 tentara Argentina serta 255 tentara Inggris. Kepulauan yang terletak 300 mil di lepas pantai timur Argentina itu hingga kini masih menjadi wilayah seberang laut Inggris yang dipersengketakan.
FIFA biasanya menjatuhkan sanksi atas pelanggaran peraturan oleh pemain atau suporter dalam beberapa pekan setelah turnamen berakhir. Namun, karena insiden ini terjadi dalam pertandingan Piala Dunia antara dua negara yang berseteru, kemungkinan sanksi akan lebih berat. Meskipun demikian, Argentina dipastikan tidak akan kehilangan tempat di final.
Pemimpin Partai Liberal Demokrat Inggris, Ed Davey, bahkan menyerukan agar pemain Argentina yang membawa spanduk tersebut diskors untuk partai final melawan Spanyol. Davey merujuk pada sanksi UEFA yang melarang pemain Spanyol Alvaro Morata dan Rodri bermain satu pertandingan setelah mereka meneriakkan "Gibraltar adalah milik Spanyol" saat perayaan Euro 2024. Gibraltar, sebuah enklave di ujung selatan Spanyol yang berada di bawah kekuasaan Inggris sejak abad ke-18, juga menjadi sumber ketegangan serupa.
Preseden lain datang dari kasus pemain Korea Selatan Park Jong-woo, yang pada 2012 mengangkat spanduk bertuliskan "Dokdo adalah wilayah kami" setelah pertandingan perebutan medali perunggu Olimpiade. FIFA menjatuhkan sanksi larangan bermain dua pertandingan, yang membuatnya absen dalam dua laga kualifikasi Piala Dunia. Dokdo, yang dikenal sebagai Liancourt Rocks, adalah gugusan pulau yang dikelola Korea Selatan namun diklaim Jepang.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga netralitas politik dalam olahraga. Sebagai negara yang kerap menghadapi isu kedaulatan, langkah FIFA dalam menangani insiden ini akan menjadi preseden bagi penanganan protes serupa di masa depan. Apakah FIFA akan konsisten dengan sanksi tegas, atau justru melonggarkan aturan karena tekanan politik?



