Tuchel Gagal Bawa Inggris ke Final: Krisis Kualitas di Balik Mentalitas Baja
Baca dalam 60 detik
- Inggris tersingkir di semifinal Piala Dunia setelah kalah dari Argentina, menambah daftar panjang kegagalan di momen krusial.
- Ketergantungan pada Harry Kane dan Jude Bellingham menjadi titik lemah, sementara pemain lain minim kontribusi ofensif.
- Pelatih Thomas Tuchel dikritik karena taktik defensif yang justru mengulang pola kegagalan era Gareth Southgate.

Thomas Tuchel harus menerima kenyataan pahit: Inggris kembali gagal menembus final Piala Dunia setelah takluk 1-2 dari Argentina di semifinal. Kekalahan ini memperpanjang puasa gelar sejak 1966 dan memunculkan kembali pertanyaan tentang kemampuan tim 'Tiga Singa' saat menghadapi tekanan tinggi.
Dalam laga yang berlangsung sengit, Inggris sempat unggul lebih dulu melalui Anthony Gordon pada menit ke-55. Namun, Argentina membalikkan keadaan lewat gol Lautaro Martinez di menit akhir injury time. Statistik menunjukkan Inggris hanya menguasai 12 persen penguasaan bola sejak unggul hingga gol kemenangan Argentina—sebuah indikasi jelas hilangnya kendali permainan.
Tuchel sebelumnya memuji mentalitas timnya, bahkan menyebutnya bisa 'dibotolkan dan dijual'. Namun, ia juga kritis terhadap kualitas permainan. "Kami tidak memiliki DNA penguasaan bola seperti Spanyol, Argentina, atau Brasil," ujar pelatih asal Jerman itu dalam konferensi pers. Pernyataan ini menjadi sorotan karena menunjukkan kelemahan fundamental yang sudah lama menghantui Inggris.
Keputusan Tuchel untuk tidak membawa Trent Alexander-Arnold, Cole Palmer, Phil Foden, dan Morgan Gibbs-White menuai kritik. Sebaliknya, ia mengandalkan pemain seperti Declan Rice dan Elliot Anderson di lini tengah, serta Jude Bellingham sebagai gelandang serang. Meski Rice dan Anderson tampil solid, mereka kurang mampu mengontrol tempo melawan tim elite. Tuchel dianggap terlalu pragmatis, memilih pemain berdasarkan pengalaman daripada kualitas murni.
Perbandingan dengan era Gareth Southgate tak terhindarkan. Southgate juga membawa Inggris ke dua final Euro dan satu semifinal Piala Dunia, namun selalu gagal di momen penentu. Tuchel diharapkan menjadi sosok yang berbeda—lebih berani dan taktis. Nyatanya, ia justru mengulangi pola yang sama: unggul lebih dulu, lalu bertahan dan akhirnya kebobolan. "Kami sudah mencoba segalanya," ujar seorang sumber di FA, menggambarkan frustrasi atas kegagalan berulang.
Bagi Indonesia, kegagalan Inggris ini menjadi pelajaran tentang pentingnya kedalaman skuad dan variasi taktik. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2026, bisa belajar dari ketergantungan Inggris pada dua pemain bintang. Tanpa pemain pelapis yang mampu tampil di level tinggi, mimpi besar sulit terwujud.
Pertanyaan kini mengarah ke masa depan: Mampukah Tuchel memperbaiki masalah fundamental ini sebelum Euro 2028? Ataukah Inggris akan terus menjadi 'tim hampir' yang hanya berjaya di atas kertas?



