Bukayo Saka Hattrick Bungkam Prancis, Bukti Tuchel Salah Langkah?
Baca dalam 60 detik
- Bukayo Saka mencetak hattrick saat Inggris mengalahkan Prancis 6-4 di perebutan tempat ketiga Piala Dunia.
- Manajer Thomas Tuchel memarkir Saka di semifinal karena masalah cedera Achilles, keputusan yang menuai kritik.
- Saka membuktikan diri sebagai pemain kunci dengan kontribusi gol setiap 59,5 menit sepanjang turnamen.

Bukayo Saka menjawab keraguan dengan cara paling spektakuler: hattrick yang membawa Inggris menaklukkan Prancis 6-4 dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia, sekaligus memicu kembali perdebatan tentang keputusan kontroversial Thomas Tuchel yang tidak menurunkannya di semifinal.
Tiga hari setelah menyaksikan dari bangku cadangan saat Inggris tersingkir oleh Argentina, pemain Arsenal itu tampil garang di Miami. Dua golnya di babak pertama—satu dari rebound tendangan Marcus Rashford dan satu lagi melalui penyelesaian tenang setelah umpan terobosan Eberechi Eze—membawa The Three Lions unggul 4-0. Ketika Prancis mencoba bangkit di babak kedua, Saka menuntaskan hattrick dari titik putih untuk mengembalikan keunggulan dua gol Inggris.
Hattrick ini menempatkan Saka dalam jajaran elit: hanya pemain keempat Inggris yang mencetak hattrick di Piala Dunia setelah Geoff Hurst, Gary Lineker, dan Harry Kane, serta yang kedua di fase gugur setelah Hurst di final 1966. Namun, pencapaian itu juga menguak luka keputusan Tuchel di semifinal, ketika ia memilih Morgan Rogers sebagai starter dan membiarkan Saka tetap di bangku cadangan meski sudah melakukan pemanasan.
Tuchel membela keputusannya dengan alasan manajemen cedera. Saka memasuki turnamen dengan masalah Achilles yang persisten setelah musim yang terganggu cedera di Arsenal. Pelatih asal Jerman itu mengaku sudah merencanakan kehati-hatian sejak lama, bahkan sebelum tim tiba di Amerika Utara. "Dia adalah pemain kunci bagi saya," ujar Tuchel usai laga melawan Prancis. "Saya merasa bertanggung jawab sebagai pelatih, mengingat sejarah cederanya, untuk tidak memaksakannya."
Namun, keputusan itu tetap menjadi salah satu topik paling hangat turnamen. Rogers memang membayar kepercayaan dengan assist untuk gol Anthony Gordon di semifinal, tetapi Inggris akhirnya kalah setelah kehilangan keunggulan 1-0 di menit-menit akhir. Argentina menyamakan kedudukan melalui Enzo Fernandez pada menit ke-85, sebelum Lautaro Martinez menanduk umpan silang Lionel Messi di waktu tambahan. Saka hanya bisa memanaskan otot tanpa pernah masuk lapangan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Saka menjadi pengingat betapa tipisnya garis antara keputusan taktis dan konsekuensi emosional. Di tengah euforia Piala Dunia yang juga disiarkan luas di Tanah Air, perdebatan tentang manajemen pemain bintang versus kebutuhan instan menjadi relevan—terutama ketika tim-tim Asia Tenggara mulai meniru pendekatan Eropa dalam mengelola beban pemain muda berbakat.
Saka sendiri memilih tidak larut dalam kekecewaan. "Tentu saya ingin bermain lebih banyak, tapi ini bukan waktunya membahas itu. Saya bicara di lapangan. Sudah selesai, lanjutkan," katanya. Dengan tiga gol dan tiga assist dari hanya 356 menit—rata-rata keterlibatan gol setiap 59,5 menit—ia membuktikan produktivitasnya bahkan dalam keterbatasan waktu bermain.
Pertanyaan yang tersisa: apakah Tuchel akan mempertahankan pendekatan hati-hati ini menuju Euro 2028? Atau, setelah performa brilian di Miami, Saka akhirnya mendapatkan kepercayaan penuh untuk menjadi andalan di laga-laga krusial? Satu hal yang pasti, Inggris memiliki senjata mematikan yang siap digunakan kapan pun dibutuhkan.



