Spanyol Bangkitkan Kembali Semangat Juara 2010 Usai Gilas Prancis
Baca dalam 60 detik
- Spanyol mengalahkan Prancis 2-0 di semifinal Piala Dunia 2026, mengulang performa dominan seperti era keemasan 2010.
- Pertahanan kokoh Spanyol mampu membungkam lini serang Prancis yang sebelumnya mencetak 16 gol, tanpa satu pun tembakan tepat sasaran hingga menit ke-80.
- Pelatih Luis de la Fuente menegaskan timnya bermain dengan kerendahan hati dan tujuan bersama, serta berharap bertemu Argentina di final.

Luis de la Fuente, pelatih tim nasional Spanyol, menyatakan bahwa skuad asuhannya telah menghidupkan kembali semangat juang yang membawa mereka meraih gelar Piala Dunia 2010. Pernyataan itu muncul setelah Spanyol sukses menekuk Prancis 2-0 di Stadion AT&T, Arlington, Texas, pada Selasa (14/7) waktu setempat, sekaligus memastikan tiket ke partai puncak turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
Kemenangan ini tidak hanya membawa Spanyol selangkah lagi menuju gelar dunia kedua, tetapi juga menunjukkan dominasi luar biasa atas salah satu tim yang dianggap paling berbahaya di turnamen. Prancis, yang sebelumnya telah mengemas 16 gol sebelum semifinal, tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran hingga menit ke-80. Catatan itu menjadi bukti betapa solidnya pertahanan yang dibangun De la Fuente.
โPesan saya kepada pemain adalah kami menghadapi salah satu tim terbaik dunia, tetapi mereka juga menghadapi tim terbaik dunia,โ ujar De la Fuente dalam konferensi pers usai laga. Ia menambahkan bahwa para pemainnya menunjukkan komitmen, solidaritas, dan bakat yang membuat hal sulit terlihat mudah. โSaya melihat ruang ganti yang bahagia dan seluruh bangsa mendukung kami. Kami telah merebut kembali semangat 2010.โ
De la Fuente juga memuji skuad yang dibangun di atas nilai-nilai kerendahan hati, tujuan bersama, dan tanpa ego. Menurutnya, kekuatan Spanyol berasal dari keselarasan gerak seluruh elemen tim. โYang terpenting adalah tahu bagaimana memilih teman seperjalanan. Jika salah pilih, Anda bisa mendapat masalah,โ katanya. Ia menekankan bahwa tim ini bekerja untuk tujuan yang sama dengan antusiasme yang sama, mengutamakan kebaikan bersama di atas kepentingan individu.
Kemenangan ini juga memperpanjang rekor tak terkalahkan Spanyol menjadi 37 laga, menyamai catatan Italia. Namun, De la Fuente menegaskan bahwa timnya masih memiliki ruang untuk berkembang. โTim ini tidak pernah berhenti membuat saya takjub. Ruang untuk perbaikan tidak terbatas,โ ucapnya. Ia menyebut perjalanan ini sebagai proses yang penuh cinta dan kerja keras, demi mencapai momen krusial dalam kondisi terbaik.
Menariknya, De la Fuente mengungkapkan keinginan untuk bertemu Argentina di final, karena hubungan pertemanannya dengan pelatih Lionel Scaloni. Meski demikian, ia juga memuji Inggris dan menyebut laga semifinal lainnya sebagai pertandingan yang layak menjadi final Piala Dunia. โSaya tidak percaya final harus dimenangkan. Final harus dinikmati. Apa yang akan datang bisa menjadi puncak kue,โ katanya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa Spanyol ini menjadi tontonan menarik sekaligus pelajaran tentang bagaimana membangun tim yang solid tanpa mengandalkan ego individu. Dengan pendekatan kolektif dan disiplin taktik, Spanyol menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal bakat individu, melainkan kerja sama dan semangat juang. Keberhasilan mereka membungkam Prancis juga menjadi sinyal bahwa tim Matador layak diperhitungkan sebagai kandidat kuat juara.
Pertanyaan sekarang: akankah Spanyol mampu mempertahankan performa ini di partai puncak? Atau justru lawan seperti Argentina atau Inggris akan menjadi batu sandungan terakhir? Satu hal yang pasti, De la Fuente dan anak asuhnya telah membuktikan bahwa mereka pantas berada di panggung terbesar sepak bola dunia.



