Tekanan di Pundak Argentina, Bukan Inggris: Guehi Tantang Juara Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Bek Inggris Marc Guehi menyebut juara bertahan Argentina yang harus menanggung beban di semifinal Piala Dunia 2026.
- Laga di Atlanta ini menjadi ujian besar bagi skuad asuhan Thomas Tuchel yang belum pernah menang atas Argentina di Piala Dunia.
- Tuchel pastikan tak ada keretakan dengan Jude Bellingham pasca kritik performa, dan Declan Rice siap tampil penuh.

Bek tengah Inggris, Marc Guehi, melontarkan pernyataan berani jelang duel semifinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina, Rabu (19/7) di Atlanta. Menurut pemain Manchester City itu, justru tim juara bertahan yang berada dalam posisi tertekan, bukan skuad Three Lions yang haus gelar sejak 1966.
"Tekanan ada pada mereka, mereka adalah juara dunia," ujar Guehi, yang telah tampil dalam enam pertandingan Inggris di turnamen ini. Laga nanti akan menjadi semifinal kedua Inggris dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, namun sejak menjuarai turnamen pada 1966, mereka belum pernah lagi menembus partai puncak.
Inggris lolos ke semifinal setelah menyingkirkan Norwegia dengan skor 2-1 melalui perpanjangan waktu. Namun, performa mereka di perempat final menuai kritik dari pelatih Thomas Tuchel, yang menyebut timnya "beruntung" dan "mempersulit diri sendiri". Kritik itu sempat memicu respons dingin dari Jude Bellingham, yang menjawab "Ya, terserah" saat ditanya soal komentar Tuchel. Namun, manajer asal Jerman itu menepis adanya ketegangan. "Saya seorang pelatih sepak bola, saya mencoba menuntut yang terbaik dan tidak puas dengan standar rendah," kata Tuchel. "Tidak ada masalah. Kami berdua masih lapar."
Pertandingan ini juga akan menjadi pertama kalinya Inggris berhadapan dengan Lionel Messi di pentas Piala Dunia. Tuchel memberikan pujian tinggi kepada kapten Argentina tersebut. "Cara dia membawa tim sungguh luar biasa. Ketika Messi menguasai bola, pergerakan dimulai. Banyak pelatih sudah mencoba menghentikannya, tapi dia selalu punya gigi lain," ucap Tuchel. Meski demikian, ia menegaskan timnya tidak akan gentar. "Kami di sini untuk memaksakan gaya dan kekuatan kami."
Di luar lapangan, rivalitas Inggris-Argentina kerap diwarnai sentimen politik, terutama terkait Perang Falklands pada 1980-an. Setelah kemenangan Argentina atas Mesir di babak 16 besar, para pemain Argentina kedapatan menyanyikan lagu yang merujuk pada kepulauan tersebut. Namun, Tuchel memilih untuk tidak memperbesar isu itu. "Kami menghormati lawan, tapi kami tidak masuk ke dalam peristiwa sejarah. Ini adalah pertandingan sepak bola besar dan dua negara sepak bola besar yang mencintai sepak bola," katanya.
Dari sisi skuad, Tuchel memastikan gelandang Arsenal Declan Rice siap tampil penuh setelah pulih dari sakit. Rice ditarik keluar saat jeda babak pertama melawan Norwegia, namun ia sudah berlatih penuh pada Selasa (18/7). Dengan demikian, hanya Jordan Henderson dan Jarell Quansah yang dipastikan absen. Bagi Indonesia, laga ini bisa menjadi tontonan menarik mengingat banyak penggemar sepak bola Tanah Air yang mengikuti perkembangan Piala Dunia. Pertandingan ini juga bisa menjadi ajang pembuktian bagi Inggris untuk memutus puasa gelar panjang, sekaligus menguji konsistensi Argentina sebagai juara bertahan.
Pertanyaan besarnya: akankah Inggris mampu mengatasi beban sejarah dan menumbangkan raksasa Argentina, atau justru Messi dkk. yang kembali menunjukkan kelasnya? Semua akan terjawab di Atlanta Stadium, Rabu malam nanti.



