Rodri Bangkit dari Cedera, Gembong Spanyol ke Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Rodri tampil gemilang saat Spanyol mengalahkan Prancis 2-0 di semifinal Piala Dunia 2026, menunjukkan performa terbaiknya sejak cedera lutut parah pada 2024.
- Gelandang 30 tahun itu menjadi kunci kemenangan dengan membentuk lini tengah kokoh, mematikan trio Mbappe, Dembele, dan Olise tanpa satu pun tembakan tepat sasaran Prancis.
- Kemenangan ini membawa Spanyol ke final pertama sejak 2010, mengonfirmasi kebangkitan Rodri sebagai salah satu gelandang terbaik dunia.

Dua puluh dua bulan setelah cedera ligamen lutut yang nyaris mengakhiri kariernya, Rodri kembali menunjukkan kelasnya sebagai motor permainan Spanyol. Gelandang 30 tahun itu menjadi arsitek kemenangan 2-0 atas Prancis di semifinal Piala Dunia 2026 di Arlington, Texas, Selasa (14/7), membawa La Furia Roja melaju ke final untuk pertama kalinya sejak menjuarai turnamen pada 2010.
Performa Rodri bukan sekadar penampilan biasa. Ia menjelma menjadi tembok tak tertembus di lini tengah, membentuk segitiga pertahanan bersama Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi yang membuat trio penyerang Prancis—Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise—tak berkutik. Kiper Spanyol Unai Simon bahkan tak perlu melakukan satu pun penyelamatan sepanjang laga, bukti betapa efektifnya Rodri dalam mematikan serangan lawan sejak awal.
Bagi pengamat sepak bola, penampilan ini mengingatkan pada masa kejayaan Rodri saat membawa Manchester City meraih treble pada 2022-2023 dan memecahkan rekor tak terkalahkan 74 pertandingan berturut-turut bersama The Citizens. Cedera ligamen yang dideritanya pada April 2024 sempat membuat banyak pihak meragukan kemampuannya kembali ke level teratas. Namun, turnamen ini membuktikan sebaliknya. Pelan tapi pasti, Rodri menunjukkan peningkatan performa dari laga ke laga, dan puncaknya terjadi di semifinal.
Pelatih Prancis Didier Deschamps terpaksa menarik Adrien Rabiot di babak pertama karena ketidakmampuannya menghadapi dominasi Rodri. Namun, perubahan taktik itu tak membuahkan hasil. Spanyol tetap menguasai permainan dengan penguasaan bola yang sabar dan serangan balik cepat melalui sayap Marc Cucurella dan Pedro Porro. Rodri menjadi pusat distribusi bola, mengalihkan serangan dari sisi ke sisi, membuat pertahanan Prancis kewalahan.
"Melihat karakteristik kedua tim, Anda tahu satu lebih eksplosif dan yang lain lebih menguasai bola," ujar Rodri usai pertandingan. "Dukungan dari para bek sayap—dari seluruh tim—sungguh sensasional." Ia menambahkan bahwa timnya harus tetap tenang dan beristirahat untuk menghadapi final nanti.
Bagi Indonesia, performa Rodri menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan mental dan fisik dalam sepak bola modern. Cedera lutut yang dideritanya seringkali menjadi momok bagi pemain Asia, termasuk Indonesia, yang kerap kesulitan pulih total. Keberhasilan Rodri kembali ke puncak performa dalam waktu kurang dari dua tahun bisa menjadi inspirasi bagi program rehabilitasi cedera di Tanah Air. Selain itu, dominasi Spanyol yang mengandalkan penguasaan bola dan pressing ketat menunjukkan bahwa sepak bola tidak selalu tentang kecepatan dan fisik, melainkan juga kecerdasan taktik dan kerja sama tim.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Spanyol mengulang sukses 2010? Atau akankah lawan di final menemukan cara untuk membongkar pertahanan kokoh yang dibangun Rodri dkk.? Satu hal yang pasti, Rodri telah membuktikan bahwa cedera bukanlah akhir segalanya.



