Bellingham Bungkam Kritik Tuchel: Dua Gol Hantar Inggris ke Semifinal Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Jude Bellingham mencetak dua gol krusial yang membawa Inggris menang 2-1 atas Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026.
- Manajer Thomas Tuchel mengkritik performa tim sebagai 'ceroboh', namun Bellingham membela rekan setim dengan merujuk pada kondisi pertandingan yang berat.
- Ketegangan antara pelatih perfeksionis dan bintang lapangan ini justru menegaskan peran sentral Bellingham sebagai penentu laga.

Dua gol Jude Bellingham memastikan Inggris melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Norwegia 2-1 di Miami, Sabtu (12/7) waktu setempat. Namun, di balik kemenangan dramatis itu, terselip ketegangan singkat antara gelandang Real Madrid tersebut dan manajer Thomas Tuchel.
Tuchel, yang dikenal dengan standar tinggi, menyebut performa Inggris 'ceroboh' dan 'penuh kesalahan' meski berhasil menang lewat babak perpanjangan waktu. Pelatih asal Jerman itu mengaku tidak puas dengan hampir semua aspek permainan, kecuali hasil akhir dan mentalitas pemain. Namun, Bellingham memiliki pandangan berbeda. Ia menilai kritik tersebut tidak sepenuhnya adil mengingat kondisi lapangan yang panas dan kualitas serangan Norwegia yang diperkuat Erling Haaland serta Martin Odegaard.
โMungkin dia tidak tahu bagaimana rasanya bermain dalam kondisi seperti itu melawan Haaland, Odegaard, (Antonio) Nusa, (Alexander) Sorloth. Itu bukan tim yang mudah dilawan,โ ujar Bellingham kepada wartawan seusai laga, seperti dikutip Reuters. Pernyataan ini menjadi respons atas komentar Tuchel yang menyebut permainan Inggris 'beruntung' bisa lolos.
Ketegangan antara Tuchel dan Bellingham bukanlah hal baru. Setahun lalu, Tuchel sempat menuai kontroversi saat menyebut temperamen Bellingham di lapangan bisa dianggap 'menjijikkan' oleh sebagian penonton. Ia kemudian meminta maaf dan menegaskan tidak ada maksud mengkritik pemain mudanya. Sebelum turnamen, Tuchel juga menekankan bahwa tidak ada jaminan tempat inti bagi pemain bintang, termasuk Bellingham. Namun, performa sang gelandang di lapangan telah menjawab semua keraguan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada dinamika antara pelatih keras dan pemain bintang yang kerap terjadi di klub-klub Eropa. Tuchel, yang pernah menangani Chelsea dan Paris Saint-Germain, dikenal sebagai pelatih yang menuntut kesempurnaan. Sementara Bellingham, di usia 23 tahun, telah menjelma menjadi pemain kunci yang mampu menentukan hasil pertandingan. Ketegangan semacam ini justru bisa menjadi bumbu yang memperkuat tim, asalkan tetap dalam batas profesional.
Tuchel sendiri, meski kecewa dengan performa tim, memberikan pujian setinggi langit untuk Bellingham. โCukup. Dia melakukannya di setiap pertandingan. Kelas dunia,โ ujar Tuchel. Pujian ini menegaskan bahwa sang pelatih tidak meragukan kualitas individu pemainnya, meskipun ia menginginkan permainan tim yang lebih solid.
Inggris kini bersiap menghadapi Argentina, juara bertahan yang diperkuat Lionel Messi dan Julian Alvarez. Pertandingan semifinal di Atlanta akan menjadi ujian sesungguhnya bagi skuad asuhan Tuchel. Tanpa harmoni sempurna, Inggris tetap memiliki senjata pamungkas: Jude Bellingham, pemain yang mampu memenangkan pertandingan saat segalanya tampak sulit. Pertanyaannya, akankah satu pemain cukup untuk mengalahkan tim sekelas Argentina?



